Direktur Utama mengatakan pengembangan PLTS menjadi bagian dari strategi optimalisasi potensi sumber daya air yang dikelola perusahaan, sekaligus mendukung diversifikasi energi nasional. “PJT II memiliki potensi besar dalam pengembangan energi baru terbarukan, termasuk melalui pemanfaatan area waduk untuk PLTS terapung,” ujarnya.
Dalam pemaparan tersebut, PJT II didampingi untuk menjelaskan potensi pengembangan energi terbarukan yang terintegrasi dengan sistem kelistrikan nasional. Pada jangka pendek, pengembangan difokuskan pada optimalisasi potensi yang telah ada, termasuk pemanfaatan waduk strategis untuk PLTS terapung serta peningkatan kapasitas pembangkit yang sudah beroperasi. Sementara dalam jangka menengah hingga panjang, penguatan portofolio energi bersih akan dilakukan melalui integrasi berbagai sumber EBT, seperti tenaga surya dan tenaga air.
Namun demikian, pengembangan PLTS dan EBT masih menghadapi sejumlah tantangan, antara lain variabilitas energi surya, kebutuhan infrastruktur pendukung, serta pembiayaan proyek yang relatif besar. Untuk itu, PJT II menekankan pentingnya kolaborasi lintas sektor, pemanfaatan teknologi, serta peningkatan efisiensi operasional guna memastikan implementasi berjalan efektif.
Direktur Utama menyatakan bahwa sinergi antara PJT II dan PLN Nusantara Power menjadi bagian penting dalam membangun ekosistem energi yang andal. “Dengan kolaborasi ini, kami optimistis dapat mendukung ketahanan energi nasional secara berkelanjutan,” katanya.
Ke depan, kedua pihak akan memperkuat sistem pemantauan operasional, meningkatkan kapasitas sumber daya manusia, serta mengelola risiko secara komprehensif untuk memastikan keberlanjutan pengembangan EBT. Sinergi pengelolaan sumber daya air dan energi listrik juga dinilai menjadi kunci dalam menjaga keseimbangan antara kebutuhan energi dan kelestarian lingkungan.
Pewarta : PR Wire
Editor: PR Wire
COPYRIGHT © ANTARA 2026