BRG segera tambah infrastruktur pembasahan gambut di Riau

BRG segera tambah infrastruktur pembasahan gambut di Riau

Sejumlah orang tampak berada di infrastruktur pembasahan gambut berupa sekat kanal yang dibangun Badan Restorasi Gambut (BRG) dan warga Desa Sei Segajah Makmur, Kabupaten Rokan Hilir, Riau, Rabu (10/7/2019). (ANTARA/Virna P Setyorini)

Jakarta (ANTARA) - Badan Restorasi Gambut akan segera membangun infrastruktur pembasahan gambut di area yang baru terbakar di Provinsi Riau.

"Kita sudah memiliki mekanisme memfasilitasi pembangunan infrastruktur pembasahan gambut (sumur bor atau sekat kanal) di daerah yg terbakar, walau tadinya tidak masuk dalam rencana kerja," kata Kepala Badan Restorasi Gambut (BRG) Nazir Foead saat dihubungi dari Jakarta, Senin.

Menurut hasil rapat koordinasi terakhir bersama Gubernur Riau serta pejabat instansi terkait termasuk  Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) dan Balai Pengendalian Perubahan Iklim dan Kebakaran Hutan dan Lahan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (BPPIKHL KLHK) yang lebih mengetahui kondisi Riau, Nazir mengatakan bahwa area yang biasanya sering terbakar seperti pesisir timur Provinsi Riau sekarang malah relatif tidak banyak yang terbakar.

Kalau pun ada, api bisa cepat dipadamkan karena sudah ada 1.500 personel yang diturunkan di daerah tersebut sejak sebulan lalu untuk membantu pemadaman kebakaran lahan dan hutan di wilayah Riau.

Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang muncul sekarang kebanyakan terjadi di daerah-daerah bukan pesisir maupun pulau yang selama ini tidak terlalu sering mengalami karhutla, kata Nazir.

Padahal 1.500 personel dari berbagai unsur yang masuk dalam satuan tugas penanggulangan kebakaran tidak ditempatkan di daerah-daerah tersebut.

Nazir mengatakan bahwa berdasarkan laporan tim BRG di lapangan, area yg sudah memiliki sekat kanal dan sumur bor relatif lebih aman.

"Misalnya, ketika kita tinjau Sungai Tohor, yang menurut Kades sudah tidak hujan tiga bulan, gambutnya masih lembab karena kanal telah tersekat dengan baik," katanya.

Nazir menyayangkan masih adanya praktik pembakaran lahan di daerah gambut yang akhirnya menjadi pemicu kebakaran hutan dan lahan di Riau.

Gubernur Riau dan Danrem, menurut dia, juga melaporkan adanya kegiatan pembakaran secara sistematis dan terkoordinasi, mengindikasikan pembakaran tidak dilakukan oleh petani kecil.

Asap kebakaran hutan dan lahan telah menurunkan kualitas udara di beberapa daerah Riau, termasuk Pelalawan dan Pekanbaru, tempat beberapa warga mulai mengeluhkan gangguan kesehatan akibat kabut asap.

Baca juga:
Kebakaran lahan gambut di Penarikan Riau belum berhasil dipadamkan
Pemerintah siapkan dana darurat untuk pembasahan gambut

Pewarta : Virna P Setyorini
Editor: Maryati
COPYRIGHT © ANTARA 2019