BRG sesalkan banyaknya pembakaran lahan pemicu karhutla

BRG sesalkan banyaknya pembakaran lahan pemicu karhutla

Kepala BNPB Doni Munardo memegang sekop didampingi Gubernur Riau Syamsuar dan Kepala BRG Nazir Foead saat berada di Sungai Tohor, Kabupaten Kepulauan Meranti, Jumat (2/7/2019). (Foto Antaranews/Anggi Romadhoni/2019)

Jakarta (ANTARA) - Badan Restorasi Gambut (BRG) menyesalkan masih banyaknya pembakaran lahan yang diduga dilakukan dengan sengaja oleh sejumlah kalangan di lahan gambut yang akhirnya menjadi pemicu kebakaran hutan dan lahan di Riau.

“Gubernur dan Danrem melaporkan beberapa wilayah di daratan yang terbakar, ditemukan pembakaran yang sistematis dan terkoordinasi, ini mengindikasikan pembakaran dilakukan bukan oleh petani kecil,” kata Kepala BRG Nazir Foead dikonfirmasi di Jakarta, Minggu.

Meski demikian pembuktian lebih lanjut oleh aparat hukum perlu dilakukan di lapangan, lanjutnya.

“Sebenarnya ini sangat disayangkan. Kita sudah mengingatkan agar tidak melakukan pembakaran untuk membuka lahan,” ujar dia.

Ia mengatakan berdasarkan hasil pemantauan lapangan, ada sejumlah lokasi lahan yang dibakar sehingga mengakibatkan kabut asap tipis menyelimuti Kota Pekanbaru.

Nazir mengungkapkan, berdasarkan laporan pihak Badan Nasional Penanganan Bencana (BNPB) dan Gubernur Riau, upaya pencegahan pembakaran lahan untuk mencegah kabut asap di musim kemarau ini sudah cukup efektif.

Hal ini terbukti dari desa-desa "langganan" kebakaran sudah relatif bersih dari titik api, karena upaya sosialisasi 1.500 lebih personel selama sebulan terakhir. “Tapi api bermunculan di area yang selama ini jarang terbakar, dan memang tidak terkawal,” ujar dia.

Pemerintah Pusat siap mendukung penambahan personel jika dibutuhkan oleh Gubernur Riau, selaku Dansatgas Karhutla.

Secara umum, dalam sebulan terakhir rata-rata tinggi muka air gambut di Provinsi Riau telah mengalami penurunan, demikian juga nilai kelembaban tanah gambut sudah di bawah 50 persen. Tinggi muka air tanah tertinggi ada di Kabupaten Rokan Hulu (-60 cm) dan paling rendah ada di Kabupaten Indragiri Hilir (-120 cm).

“Kita terus menggerakkan kelompok masyarakat yang selama ini menjadi mitra kami membangun sumur bor dan sekat kanal untuk melakukan pembasahan,” lanjutnya.

Baca juga: Satgas lanjutkan pemadaman Karhutla di Kampar
Baca juga: BMKG deteksi 138 titik panas "kepung" Riau
Baca juga: Polda Riau sudah tetapkan 20 tersangka pembakar lahan

Pewarta : Virna P Setyorini
Editor: Budhi Santoso
COPYRIGHT © ANTARA 2019