Kewirausahaan Islami dan teknologi basis pengembangan SMK di Aceh

Kewirausahaan Islami dan teknologi basis pengembangan SMK di Aceh

Kepala Dinas Pendidikan Aceh, Syaridin, meresmikan SMKN Nurussalam, Aceh Timur, Kamis (25/7/2019). (FOTO ANTARA/M Ifdhal)

Aceh Besar (ANTARA) - Pelaksana Tugas Gubernur Aceh, Nova Iriansyah menyatakan pendidikan sekolah menengah kejuruan (SMK) di provinsi itu dikembangkan dengan  kewirausahaan Islami dam berbasis teknologi.

“Salah satu urusan wajib yang menjadi kewenangan Pemerintahan Aceh yang merupakan pelaksanaan keistimewaan Aceh adalah penyelenggaraan pendidikan yang berkualitas dan Islami dengan menambah dan mengintegrasikan materi dinul Islam sesuai dengan syariat Islam,” katanya di Aceh Timur, Kamis.

Pernyataan itu disampaikannya dalam pidato tertulis dibacakan Kepala Dinas Pendidikan Aceh, Syaridin di sela-sela meresmikan SMKN 1 Nurussalam di Gampong Pulo U, Kecamatan Nurussalam, Aceh Timur.

Ia menjelaskan saat ini peserta didik terlahir di era digital dan pesatnya teknologi, sehingga mereka lebih mudah dan cepat menyerap teknologi terbaru.

Perkembanhan tersebut, katanya, bisa dimanfaatkan oleh sekolah dan para guru untuk menerapkan pendidikan berbasis teknologi dan kewirausahaan yang dapat mengantisipasi kekurangan industri di sekitar daerah itu.

Menurut dia penguatan karakter akhlakul karimah anak juga ditopang dengan hadirnya kurikulum Aceh, yang khusus pendidikan SMK di Aceh diberi nama Eduteknopreneur Islami yang memiliki arti bahwa pendidikan SMK Aceh berbasis teknologi dan kewirausahaan yang Islami.

Ia mengatakan pada tahun ajaran 2019/2020 akan dimulai serentak di seluruh Aceh dan kurikulum Eduteknopreneur menerapkan pendekatan pembelajaran berbasis tempat kerja atau sering disebut Work Based Learning (WBL).

Dalam kesempatan tersebut juga dilakukan penandatanganan prasasti dan penyerahan SK Plt Kepala SMK Negeri 1 Nurussalam serta penyerahan serifikat tanah waqaf dari salah seorang warga setempat.

Kepala Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Negeri 1 Nurussalam, Muhammad Nasir menyebutkan sekolah yang dipimpinnya itu memiliki dua jurusan yaitu Teknik Jaringan Akses Telekomunikasi dan Jurusan Teknik Jaringan Tenaga Listrik.

"Dan saat ini kita sudah mempunyai 17 pengajar yang 60 persennya adalah guru kontrak Provinsi dengan jumlah siswa saat ini sebanyak 57 orang untuk kedua jurusan," demikian Syaridin.

 

Baca juga: Aceh susun kurikulum pendidikan Islami

Baca juga: Enam gelar juara tingkat nasional disabet Aceh

Baca juga: Aceh tuan rumah kompetisi pendidikan agama Islam

Pewarta : M Ifdhal
Editor: Andi Jauhary
COPYRIGHT © ANTARA 2019