Kemendikbud menilai kelayakan 492 buku nonteks pelajaran

Kemendikbud menilai kelayakan 492 buku nonteks pelajaran

Kepala Badan Pengembangan Bahasa dan Perbukuan, Kemendikbud, Prof Dadang Sunendar (tengah) memberikan paparan terkait penilaian buku nonteks. (ANTARAnews/Muhammad Zulfikar)

Jakarta (ANTARA) - Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) RI melakukan penilaian 492 judul buku nonteks pelajaran yang ditujukan untuk meningkatkan kualitas buku sehingga layak digunakan dalam pengembangan kegiatan pembelajaran.

"Bapak menteri berharap dalam penilaian buku ini dilakukan semaksimal mungkin agar menghasilkan buku nonteks yang berkualitas," kata Kepala Badan Pengembangan Bahasa dan Perbukuan, Kemendikbud, Prof Dadang Sunendar, di Jakarta, Kamis.

Ia mengatakan penilaian buku nonteks pelajaran tersebut menitikberatkan pada empat kriteria yaitu masalah isi, bahasa, penyajian dan kegrafikan suatu buku. Para penilai diminta maksimal menilai buku-buku yang diusulkan oleh 25 penerbit tersebut.

Para penilai kata dia, harus berani mengatakan dan menyampaikan apakah buku tersebut layak atau tidak sebelum digunakan oleh masyarakat khususnya peserta didik.

Sebagai contoh dari segi kebahasaan buku, tim penilai diminta dapat menyumbangkan nilai lebih karena Pusat Perbukuan (Pusbuk) berada di bawah Badan Bahasa dan Perbukuan.

Pada 2018, terdapat sekitar 200 judul buku karya Badan Bahasa dinilai oleh Pusat Kurikulum dan Perbukuan (Puskurbuk), namun hanya 170 buku yang lulus.

Secara umum, ujarnya, lahirnya Undang-Undang nomor 3 tahun 2017 tentang sistem perbukuan, masyarakat berharap cukup tinggi agar pemerintah menghasilkan buku yang bermutu, murah dan merata.

Ia menilai permintaan masyarakat berharap adanya buku murah namun bermutu tetap dapat dilakukan seperti yang dilakukan India, Finlandia, dan Korea Selatan telah menerapkan sistem perbukuan baik.

"Harapan ini bisa dilakukan oleh pelaku perbukuan mulai dari penulis, desainer, penerbit, ilustrator hingga tokoh buku," katanya.

Sementara itu, salah seorang penilai materi Bahasa Indonesia, Lina Meilinawati mengatakan persoalan bahasa yang cukup panjang dan sulit dipahami masih ditemukan di buku tingkat pendidikan anak usia dini (Paud).

"Contoh buku untuk anak Paud, kalimatnya masih panjang, kata-katanya masih kompleks lalu pilihan katanya tidak sesuai," kata dia.

Hal tersebut, katanya, kurang tepat apabila diterapkan bagi anak didik yang baru duduk di bangku Paud. Seharusnya, penerbit lebih mengutamakan desain gambar atau grafik menarik dan bagus.

Baca juga: DPR usul dibentuk Badan Perbukuan Nasional gantikan Puskurbuk
Baca juga: Bahasa Indonesia ditargetkan jadi bahasa internasional ke-7

Pewarta : Muhammad Zulfikar
Editor: Budi Santoso
COPYRIGHT © ANTARA 2019