Pengamat sosial sebut profil pengguna narkoba tak hanya selebritis

Pengamat sosial sebut profil pengguna narkoba tak hanya selebritis

Pengamat sosial Universitas Indonesia Devie Rahmawati. ANTARA/Laily Rahmawaty/am.

Jakarta (ANTARA) - Pengamat sosial Universitas Indonesia Devie Rahmawati menyebutkan, profil penyalah guna narkoba di Indonesia tidak hanya kalangan selebritis melainkan juga anak-anak dan pekerja produktif.

"Data terkini yang dirilis BNN justru profil pengguna narkoba terbesar adalah anak-anak dan pekerja produktif. Itu artinya tidak merujuk kepada profesi tertentu, tetapi hanya saja selebritis selalu menjadi sorotan dan menjadi berita besar," kata Devie saat dihubungi di Jakarta, Rabu.

Dia menjelaskan dengan adanya selebritis yang ditangkap dan diadili aparat penegak hukum akibat kasus narkoba, maka ini menjadi alarm yang media tampilkan guna mengingatkan masyarakat tentang bahaya narkoba.

"Faktanya anak-anak justru yang menjadi target utama narkoba karena secara mental mereka lemah. Mereka lebih mudah disusupi untuk menjadi konsumen jangka panjang bagi pebisnis narkoba," ujar Devie.

Sedangkan bagi pekerja produktif, kalangan ini menyalahgunakan narkoba karena stres akibat tingkat kompetisi yang tinggi baik itu secara ekonomi maupun simbolik.

Kompetisi ekonomi muncul seiring dengan meningkatnya kebutuhan hajat manusia. Untuk mencukupi kebutuhan finansial, kaum pekerja produktif harus bekerja keras bahkan mengesampingkan faktor kesehatan mereka.

Baca juga: Penyalahguna narkoba butuh dukungan psikososial keluarga

Adapun kompetisi simbolik muncul akibat pengaruh teknologi dan medium penyampaian pesan yang beragam, seperti media sosial yang membuat orang pamer kehidupan. Situasi itu menghadirkan ilusi dan fatamorgana.

"Dalam studi-studi global (kompetisi ekonomi dan simbolik) menimbulkan stres, sehingga mendorong orang untuk memiliki kehidupan yang sama nikmatnya seperti yang selama ini mereka bayangkan," paparnya.

Untuk mengejar hal tersebut, orang-orang perlu stamina yang kemudian menjadi pintu masuk dari para pedagang barang haram itu dengan menawarkan bantuan instan berupa narkoba.

"Di era modern, tingkat kompetisi yang tinggi membuat semua orang berpacu. Ketika mereka berpacu dengan menggunakan alat yang salah (narkoba), ini kemudian yang menjadi problem," ungkap Devie yang kesehariannya bekerja sebagai dosen tetap Program Vokasi Universitas Indonesia tersebut.
Pewarta : Sugiharto Purnama
Editor: Yuniardi Ferdinand
COPYRIGHT © ANTARA 2019