Gubernur Babel minta BPBD segera tangani kabut asap

Gubernur Babel minta BPBD segera tangani kabut asap

Gubernur Kepulauan Bangka Belitung, Erzaldi Rosman Djohan saat menghadiri simulasi kebencanaan yang dilaksanakan oleh Dinas Kehutanan dan BPBD Provinsi Kepulauan Babel di Pantai Tamberan, Minggu (21/7). (Babel.antaranews.com/Aprionis)

Pangkalpinang (ANTARA) - Gubernur Kepulauan Bangka Belitung Erzaldi Rosman Djohan meminta Badan Penanggulangan Bencana Daerah segera mengambil langkah penanganan kabut asap karena pembakaran hutan dan lahan selama musim kemarau di daerah itu.

"Kami berharap BPBD bekerja sama dengan seluruh pihak untuk mengatasi masalah kabut asap dan pembakaran lahan ini," kata dia di Pangkalpinang, Minggu.

Ia mengatakan secara kasat mata kabut asap sudah mulai terlihat sehingga hal itu harus segera diatasi dan dikendalikan, agar bencana tersebut tidak meluas karena akan mengganggu kesehatan masyarakat.

"Saya akan segera menginstruksikan BPBD untuk mengambil langkah dalam memadamkan api atau mengimbau kepada masyarakat yang ingin membuka lahan pertaniannya untuk tidak membakar lahan pertaniannya," katanya.

Ia juga meminta masyarakat tidak lagi membakar lahan pertanian dan sampah.

Apabila ada sampah dari rumah, kata dia, ditanam atau mengolahnya menjadi sampah organik atau pupuk kompos.

"Kami mengimbau masyarakat untuk tidak lagi membakar sampah secara sembarangan, karena berpotensi terjadinya kebakaran lebih luas, kabut asap dan lainnya yang merugikan masyarakat lainnya," katanya.

Kepala Seksi Kedaruratan BPBD Kepulauan Babel Aswind mengatakan terhitung sejak Juni hingga pertengahan Juli 2019 seluas 12,55 hektare hutan dan lahan terbakar, atau mengalami penurunan dibandingkan dengan tahun sebelumnya.

Kasus kebakaran hutan dan lahan selama musim kemarau 2018 tercatat 175 titik dengan luas lahan 195,2 hektare tersebar di Kota Pangkalpinang, Kabupaten Bangka, Bangka Barat, Bangka Selatan, Belitung, dan Belitung Timur.

"Rata-rata kejadian kebakaran hutan dan lahan tahun lalu lebih dari 12 kali per bulan, sementara tahun ini baru 12 kali kejadian kebakaran. Jadi kasus karhutla 2019 jauh penurunannya dibandingkan tahun sebelumnya," katanya.

Menurut dia, penurunan kejadian kebakaran hutan dan lahan itu karena kesadaran masyarakat untuk tidak membakar sampah dan lahan sudah mengalami peningkatan.

Masyarakat, kata dia, sudah merasakan dampak dari kebakaran hutan dan lahan yang mengganggu kesehatannya.

"Alhamdulillah semakin hari masyarakat semakin sadar untuk tidak membakar lahan sembarangan," katanya. 

Baca juga: Kabut asap tipis selimuti Pekanbaru dan Dumai
Baca juga: Kebakaran hutan dan lahan di Kalteng terus meluas

 
Pewarta : Aprionis
Editor: M. Hari Atmoko
COPYRIGHT © ANTARA 2019