Kerusakan hutan mangrove di Banten capai 60 persen

Kerusakan hutan mangrove di Banten capai 60 persen

Kegiatan penanaman mangrove di garis pantai Teluk Banten, Karangantu, Kecamatan Kasemen, Kota Serang. (Foto Antara Banten/Susmiyatun Hayati)

Serang (ANTARA) - Tingkat kerusakan hutan mangrove di Provinsi Banten mencapai 60 persen dari total 2.600 hektare, dan sedang diupayakan memulihkannya melalui kegiatan penanaman kembali.

Kepala Dinas Lingkungan Hidup Provinsi Banten Husni Hasan, Jumat (19/7), menyatakan memperbaiki hutan mangrove rusak terus dilakukan, karena fungsinya sangat positif dan strategis, selain mencegah abrasi pantai, juga sebagai wadah budidaya kerang, kepiting, dan udang.

"Hutan mangrove menjadi salah satu pendukung untuk budi daya kerang, kepiting dan udang jadi secara ekonomi bisa memberikan kesejahteraan bagi masyarakat nelayan pesisir.," katanya.

Bahkan, kata dia, pada beberapa tempat hutan mangrove ini dijadikan destinasi tempat wisata, untuk itu pemerintah akan mendorong ke arah itu, baik sebagai budi daya perikanan juga untuk bumper abrasi juga untuk meminimalisir kerugian yang diakibatkan bencana tsunami.

"Selain itu, bisa dimanfaatkan sebagai wisata bahari, tapi sayang sekarang enam puluh persennya rusak akibat sampah, alih fungsi lahan menjadi kawasan industri dan penebangan liar," ujarnya.

Baca juga: 8.233 hektare lahan mangrove Pohuwato beralih fungsi

Direktur Rekonvasi Bhumi Nana Prayatna Rahadian menyatakan perbaikan kerusakan lahan mangrove butuh peran serta kebijakan pemerintah, dan saat ini banyak lahan mangrove yang mengalami kerusakan, justru akibat kepentingan pembangunan Industri yang tidak bertanggung jawab terhadap kondisi lingkungan sekitar.

Ia mencontohkan pembangunan PLTU Lontar di Tangerang, sebelumnya berada di atas lahan hutan mangrove, kedua kerusakan yang disebabkan karena perilaku masyarakat yang kurang baik, terakhir persoalan hutan mangrove di Sawah Luhur yang ditebang kemudian menjadi kasus hukum.

"Kita memang perlu dukungan pemerintah, Yang menyedihkan itu, mangrove itu penting untuk ekosistem terutama para nelayan. Tapi tidak semua masyarakat punya kesadaran untuk menjaga itu," ujarnya.

Nana menambahkan, saat ini ada beberapa masyarakat yang mulai tergerak untuk menanam di tambak. "Yang tergerak untuk menanam itu mulai ada tapi jumlahnya sedikit, masih satu dua orang. Selebihnya itu masih memanfaatkan mangrove untuk kepentingan - kepentingannya baik itu untuk membangun rumah, perahu tanpa mau menanam kembali," katanya.

Kebijakan pemerintah juga dinilai masih setengah hati. "Tidak ada upaya konkret target untuk mengatasi kerusakan lahan mangrove yang cukup besar. Tidak ada langkah - langkah itu, selama ini pemerintah berencana membuat mangrove centre seperti di Bali tapi baru sekitar wacana bentuk konkretnya belum," ujarnya.

Namun pihaknya mengingatkan bahwa tanggung jawab lingkungan merupakan tanggung jawab seluruh elemen masyarakat, kerja sama seluruh pihak diharapkan menjadi energi besar untuk memperbaiki lingkungan yang terlanjur rusak.

Rekonvasi Bhumi, sebagai LSM yang konsen terhadap kelestarian lingkungan terus melakukan upaya pelestarian alam, termasuk salah satunya mencarikan solusi terhadap penanganan kerusakan lahan mangrove yang mengancam kelangsungan hidup masyarakat nelayan, dengan mengajak perusahaan-perusahaan yang memiliki tujuan sama di bidang pelestarian lingkungan.

"Ini tanggung jawab kita semua, bukan hanya pemerintah, swasta atau LSM. Kerja sama para pihak itu energi besar untuk perbaikan lingkungan. Kami berharap ke depan tidak hanya Lotte Chemical Indonesia, Chandra Asri, tapi ada juga perusahaan-perusahaan lainnya yang punya kepedulian yang sama terhadap lingkungan," katanya.

Baca juga: Batam kehilangan 800 hektare hutan mangrove
Baca juga: Kerusakan mangrove sebabkan kerugian miliaran dolar

 
Pewarta : Sambas
Editor: Ridwan Chaidir
COPYRIGHT © ANTARA 2019