Embun es Dieng yang menawan dan mengancam

Embun es Dieng yang menawan dan mengancam

Embun air terlihat di kompleks Candi Arjuna, Dieng pada Rabu (26/6) dini hari. Sehari sebelumnya, Selasa (25/6) kawasan Dieng diselimuti embun es. (Foto: Nur Istibsaroh)

Semarang (ANTARA) - Pesona keindahan Daratan Tinggi Dieng, Banjarnegara, Jawa Tengah masih terus menjadi magnet bagi wisatawan untuk berkunjung, apalagi saat ingin merasakan fenomena munculnya embun es di musim kemarau.

Embun yang membeku akibat suhu dingin mulai terlihat di sejumlah tempat seperti di meja-meja tempat berjualan, tanaman, dan hamparan rumput sekitar kompleks Candi Arjuna Dieng.

Buliran embun es memantulkan panorama elok yang sebagian wisatawan mengaku sengaja ke Dieng untuk berburu nuansa dingin bak musim salju di Eropa.

Keelokan embun es Dieng biasa terjadi tiap tahun di kisaran Juni, Juli, dan Agustus atau puncak musim kemarau. Jika pada 2018 mulai terjadi di akhir Juli, tahun ini di pekan ketiga Juni 2019 sudah terlihat.

Wisatawan yang ingin melihat dan menikmati fenomena embun es biasanya sudah sejak pukul lima pagi mendatangi kompleks Candi Arjuna Dieng.

Hanya saja, embun es tersebut tidak muncul tiap hari seperti pada Juni 2019 embun es terlihat sangat tebal berkisar 0,5 cm, demikian juga pada 18 Juni dan 25 Juni 2019, namun pada Rabu, 26 Juni 2019 embun es tak terlihat, hanya embun air.

"Biasanya karena angin kencang, embun es tidak muncul. Kemarin, Selasa (25/6) di meja tempat berjualan esnya tebal sekali, pagi ini hanya embun air," kata Elia Wulandari, warga setempat yang sudah empat tahun berjualan di kawasan Candi Arjuna ditemui Antara, Rabu dini hari.

Baca juga: Embun upas terjadi akibat penurunan suhu

Embun es dan nuansa dingin di kawasan Daratan Tinggi Dieng menjadikan penasaran dan menjadikan banyak yang ingin merasakannya secara langsung.

Lian Hernawati, warga Depok yang datang bersama keluarga mengaku penasaran dengan embun es, hingga liburan keluarga yang seharusnya ke Yogyakarta digeser ke Dieng.

"Karena lihat di TV dan Facebook, jadinya penasaran ingin melihat langsung dan merasakan serunya hawa dingin Dieng," kata Lian yang datang ke Dieng dengan kendaraan pribadi dari Depok bersama suami dan dua anaknya.

Tidak sekadar embun es, sensasi hawa dingin Daratan Tinggi Dieng juga menyimpan daya tarik tinggi bagi wisatawan termasuk Fawwazah yang ingin mencoba hawa dingin Dieng.

"Saya alergi dingin dan infonya Dieng dingin sekali. Nah, saya mencoba siapa tahu kalau di tempat dingin sekali, alerginya hilang. Ternyata benar. Setelah hari pertama masih bentol- bentol merah kedinginan, hari kedua sudah tidak bentol-bentol merah lagi di pipi. Kalau dingin masih kedinginan, tapi bentol-bentolnya hilang," katanya.

Gadis berkerudung dengan penutup kepala dan syal warna pink serasi dengan rok panjangnya yang ditemui di Komplek Candi Arjuna Dieng Kulon mengaku senang bisa merasakan dinginnya Dieng yang mencapai 10 derajat celcius pada Rabu (26/6) dini hari.

Ingin merasakan sensasi dingin juga disampaikan wisatawan lainya dengan berkunjung ke Daratan Tinggi Dieng.

"Saat saya ke Korea, bertepatan musim dingin, tetapi ternyata tidak sedingin di Dieng," kata Irsyad, seorang wisatawan dari Semarang yang datang ke Dieng bersama keluarga.

Tak hanya embun es yang dapat dinikmati pada dini hari, pesona Dieng juga makin menawan di malam hari dengan langitnya yang cerah dan wisatawan dimanjakan dengan taburan banyak bintang.

"Kalau di Semarang hanya ada satu-dua bintang, tapi di atas langit Dieng bisa penuh dengan bintang. Bagus baget, karena baru pertama kali bisa lihat bintang sebanyak ini," tambah Irsyad.

Baca juga: Fenomena embun upas di Dieng

Mie Ongklok

Daya tarik embun es dan hawa dingin Dataran Tinggi Dieng menjadikan wisawatan dalam negeri dan luar negeri banyak yang berdatangan dan hal itu berbanding lurus dengan meningkatnya wisata kuliner Wonosobo.

Ada beragam kuliner yang banyak dicicipi wisatawan salah satunya Mie Ongklok lengkap dengan tiga tusuk sate ayam yang disajikan bersamaan menambah sensasi yang luar biasa.

"Mienya sama seperti mie kuning pada umumnya. Hanya saja, yang berbeda kuahnya yang beda. Jika biasanya mie seperti mie ayam kuahnya bening, Mie Ongklok kuahnya kental sekali. Rasanya enak dan unik. Pantas untuk dicoba," kata Bowo, wisatawan dari Jakarta.

Bertempat persis di pertigaan arah Candi Arjuna, tempat makan yang berjualan Mie Ongklok ini, tidak pernah sepi dari wisatawan tidak hanya dalam negeri tapi juga wisatawan mancanegara.

Tidak sedikit yang datang secara berombongan dengan menggunakan bus untuk menikmati Mie Ongklok dilengkapi dengan beragam menu minuman panas.

Embun es yang mengancam

Tidak sekadar membawa berkah bagi pedagang dan pemilik penginapan yang berada di Kawasan Daratan Tinggi Dieng, tapi embun es ternyata menjadi ancaman bagi para petani.

"Kalau sudah turun embun es, para petani kentang sudah tidak berharap bisa panen," kata Romadhoni, warga Dieng Kulon sembari menunjukkan foto embun es yang menempel di tanaman dari telepon genggamnya.

Embun es, bagi warga setempat biasa menyebutnya dengan embun bisa (bagi hewan, bisa sangat mematikan) karena mematikan tanaman tertentu.

"Tanaman kentang dan tanaman carica mati karena embun es, untuk tanaman yang lain tidak terpengaruh," katanya.

Saat embun es menempel ke daun tanaman kentang dan carica pagi hari, kemudian siang hari terkena matahari, menjadikan daun tanaman kuning dan layu, berpotensi besar menjadi kering dan mati.

Tanaman kentang adalah salah satu tanaman yang banyak ditanam petani di Kawasan Daratan Tinggi Dieng dan hal itu menjadikan banyak makanan ringan yang dijajakan disekitaran Dieng berbahan dasar kentang seperti kentang goreng yang dipotong memanjang tipis-tipis, kentang rebus berbumbu, dan kentang goreng yang dibentuk berulir dengan tusukan lidi.

Baca juga: Lima hektare tanaman kentang di Dieng terdampak embun beku

 
Pewarta : Mahmudah/Nur Istibsaroh
Editor: Ahmad Buchori
COPYRIGHT © ANTARA 2019