Core usulkan momentum mudik titik perubahan revolusi mental

Core usulkan momentum mudik titik perubahan revolusi mental

Paparan Direktur Eksekutif Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia Hendri Saparini dalam forum ekonomi yang bertajuk “Konektivitas Memace Pertumbuhan Kualitas” di Jakarta, Rabu. (ANTARA/ Juwita Trisna Rahayu)

Jakarta (ANTARA) - Direktur Eksekutif Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia Hendri Saparini mengusulkan momentum mudik sebaiknya dijadikan sebagai titik perubahan revolusi mental.

“Mungkin pemerintah memetakan harus mulai dari mana revolusi mental ini, momentum mudik ini merupakan kesempatan untuk menjalankan revolusi mental,” kata Hendri dalam forum ekonomi yang bertajuk “Konektivitas Memace Pertumbuhan Kualitas” di Jakarta, Rabu.

Hendri menjelaskan pembangunan infrastruktur yang turut meningkatkan konektivitas, terutama saat arus mudik dan balik Lebaran, tidak akan berdampak signifikan apabila tidak dibarengi dengan perubahan pola pikir atau mental penggunanya.

Dia mencontohkan, tempat istirahat (rest area) adalah tempat untuk istirahat sejenak, namun beralih fungsi menjadi tempat menginap saat masa angkutan Lebaran.

Selain itu, banyak pemudik yang berhenti dan beristirahat di bahu jalan meskipun sudah banyak aturan yang melarang kegiatan tersebut.

“Paling tidak ada dorongan dari pemerintah untuk memaksa agar pengguna tidak melakukan hal demikian, sehingga ada perubahan mental di mudik-mudik selanjutnya,” katanya.

Hendri menyebutkan setidaknya ada 166.000 kendaraan arus balik yang masuk ke Jakarta dalam sehari, artinya pemerintah tidak mungkin membangun kapasitas sebesar itu hanya untuk menampung kendaraan sehari.

“Tidak mungkin pemerintah bangun infrastruktur yang bisa menampung 166.000 kendaraan per hari, karena itu perlu adanya manajemen yang lebih cepat,” ujarnya.

Hendri menambahkan fenomena mudik yang terjadi di Indonesia dan di luar negeri berbeda, di mana di luar negeri hanya orang yang berpindah, sementara di Indonesia dengan moda angkutannya berpindah, terutama mobil pribadi dan sepeda motor.

“Semakin maju sebuah negara, semakin maju pula manajemen dalam mengatur perpindahan orang dari suatu daerah ke daerah lain. Bagaimana transportasi publik bisa dibangun agar seluruh masyarakat bisa mudik dengan senyum, tidak ada kenaikan biaya transportasi yang tinggi,” ujarnya.

Pasalnya, Ia memaparkan bahwa semakin modern masyarakat dan semakin maju ekonomi, ternyata tidak menghilangkan budaya mudik, termasuk di Jepang, Korea Selatan dan China.

Hendri menilai perhatian besar pemerintah Indonesia terhadap tradisi mudik, terutama mudik akbar Idul Fitri sangat tepat karena selain menjaga budaya juga memberikan potensi dampak sosial ekonomi besar dan sangat penting bagi kemajuan dan pemerataan.

Baca juga: Kesigapan Pertamina dinilai perlancar arus mudik dan balik
Baca juga: Pengamat: arus mudik lancar, arus balik tersendat

Pewarta : Juwita Trisna Rahayu
Editor: Ahmad Wijaya
COPYRIGHT © ANTARA 2019