Puluhan wisatawan di Gunung Kidul tersengat ubur-ubur

Puluhan wisatawan di Gunung Kidul tersengat ubur-ubur

Ubur-ubur muncul sepanjang pantai di Kabupaten Gunung Kidul, DIY. Wisatawan diimbau untuk berhati-hati saat mandi di bibir pantai. (Foto ANTARA/Sutarmi)

Gunung Kidul (ANTARA) - Puluhan wisatawan yang berkunjung di kawasan pantai di Kabupaten Gunung Kidul, Daerah Istimewa Yogyakarta, Senin, tersengat ubur-ubur saat bermain air.

Sekretaris SAR Linmas Korwil II Baron Surisdiyanto di Gunung Kidul, Senin, mengatakan jumlah wisatawan yang tersengat ubur-ubur, yakni di Pantai Kukup ada 25 orang, Pantai Sepanjang ada 4 orang dan Pantai Drini ada 6 orang, total 35 orang.

Sejak Sabtu (1/6), objek wisata pantai di Gunung Kidul sudah mulai dipadati wisatawan dari berbagai daerah. Peningkatan kunjungan wisatawan ke Gunung Kidul akan meningkat pada H+2 Lebaran hingga Minggu (9/6).

"Wisatawan yang tersengat ubur-ubur langsung mendapat pertolongan medis di posko kesehatan dan tim SAR," kata Surisdiyanto.

Ia mengatakan SAR Linmas Korwil II Baron akan mengoptimalkan personel untuk mengingatkan dan menyosialisasikan kepada wisatawan untuk berhati-hati saat mandi di bibir pantai. Saat ini, sepanjang pantai selatan di Gunung Kidul banyak ditemukan ubur-ubur. Warna ubur-ubur yang sangat cantik, terkadang dijadikan mainan dan tidak dipedulikan.

"Kami sudah memasang rambu-rambu peringatan bahaya ubur-ubur," katanya.

Ia menjelaskan hewan laut ini Ubur-ubur physalis (impes) dimana hewan berwarna biru dan mengapung di permukaan air laut yang mempunyai tentakel atau kaki yang menjuntai. Tentakel inilah tempat sel penyengat (nematocyst) berada.

Nematocyst, lanjut Surisdiyanto, hewan ini memiliki bisa karena berfungsi untuk melumpuhkan mangsa dan menjadi sistem pertahanan diri dari predator lainya termasuk manusia. Apabila terkena nematocyst, tubuh akan terasa gatal diikuti dengan rasa terbakar, nyeri bahkan sesak nafas.

"Saat ini, banyak ubur-ubur di pantai selatan. Kami mengimbau supaya tidak memegang ubur-ubur," imbaunya.
Pewarta : Sutarmi
Editor: Triono Subagyo
COPYRIGHT © ANTARA 2019