Stasiun Meteorologi: waspadai gelombang 6 meter di perbatasan Maluku

Stasiun Meteorologi: waspadai gelombang 6 meter di perbatasan Maluku

ilustrasi - Kapal tongkang berlayar saat gelombang tinggi di Selat Bali terlihat dari Pantai Boom, Banyuwangi, Jawa Timur, Sabtu (1/6/2019). (ANTARA FOTO/Budi Candra Setya/foc)

Ambon (ANTARA) - Stasiun Meteorologi Pattimura Ambon memberikan peringatan tentang kewaspadaan gelombang mencapai enam meter yang berpeluang terjadi di wilayah perbatasan Maluku pada beberapa hari ke depan karena berbahaya bagi pelayaran rakyat.

"Gelombang mencapai enam meter berpeluang terjadi di perairan selatan Kepulauan Sermata, Kabupaten Maluku Badar Daya (MBD) hingga Kepulauan Tanimbar, Kabupaten Kepulauan Tanimbar dan Laut Arafuru bagian barat hingga tengah, Kabupaten Kepulauan Aru yang secara geografis berdekatan dengan Timor Leste maupun Australia," kata Kepala Stasiun Meteorologi Pattimura Ambon, Ot Oral Sem Wilar, di Ambon, Minggu.

Ggelombang mencapai empat meter berpeluang terjadi di Laut Arafuru bagian timur, Laut Banda, perairan selatan Kepulauan Kei-Kepulauan Aru.

Gelombang mencapai 2,5 meter berpeluang terjadi di perairan selatan Pulau Buru-Pulau Seram, perairan utara Kepulauan Kei-Kepulauan Aru dan Laut Seram bagian timur.

Ot mengatakan potensi hujan lebat disertai petir berpeluang terjadi di Laut Banda dan Laut Arafuru bagian tengah dan timur

Ia mengatakan adanya awan gelap (Cumulonimbus) di lokasi tersebut dapat menimbulkan angin kencang dan menambah tinggi gelombang.

Kondisi cuaca di Maluku ini dipengaruhi adanya pola angin di wilayah utara khatulistiwa umumnya dari timur-selatan dengan kecepatan 3-15 knot, sedangkan di wilayah selatan umumnya dari timur-tenggara dengan kecepatan 3-25 knot.

Oleh karena itu, kata dia, para nelayan diimbau mewaspadai gelombang tinggi tersebut dan hendaknya jangan memaksakan diri melaut dengan mengandalkan armada tradisional.

Armada tradisional tidak kuat menahan kondisi cuaca tersebut, apalagi sewaktu-waktu terjadi perubahan kecepatan angin sehingga memengaruhi tinggi gelombang.

Ot mengemukakan imbauan kondisi cuaca juga disampaikan ke Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) di sembilan kabupaten dan dua kota, termasuk para bupati maupun wali kota.

Oleh karena bila terjadi kondisi cuaca ekstrim, maka Kepala Kantor Kesyahbandaran dan Otoritas Pelabuhan (KSOP) Kelas 1 Ambon berwenang tidak memberikan izin berlayar, bahkan sekiranya dipandang perlu aktivitas pelayaran untuk sementara ditutup sambil menunggu laporan perkembangan cuaca terbaru.

"Para pengguna jasa transportasi juga hendaknya memaklumi bila terjadi penundaan dan keterlambatan jadwal keberangkatan kapal laut akibat faktor cuaca karena pertimbangan perlunya memprioritaskan keselamatan," kata Ot.
 
Pewarta : Alex Sariwating
Editor: M. Hari Atmoko
COPYRIGHT © ANTARA 2019