Pengungsi korban pergeseran tanah di Sukabumi mulai alami stres

Pengungsi korban pergeseran tanah di Sukabumi mulai alami stres

Salah seorang pengungsi di Kampung Gunungbatu, Desa Kertaangsana, Kecamatan Nyalindung, Kabupaten Sukabumi, Jabar yang merupakan korban bencana pergeseran tanah tengah memeriksakan tensi darahnya karena mengeluh sering pusing. (Foto: Aditya AR/Antaranews)

Sukabumi, Jabar (ANTARA) - Warga yang merupakan pengungsi korban bencana pergeseran tanah di Kampung Gunungbatu, Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat mulai mengalami gejala stres selama sepekan menghuni pengungsian.

"Hingga saat ini diagnosa atau keluhan yang dialami pengungsi di posko pengungsian merasa cemas dan stres ini dibuktikan dengan banyaknya warga terdampak bencana di Desa Kertaangsana, Kecamatan Nyalindung ini yang tensi darahnya naik dan pusing-pusing," kata Ketua Tim Medis Posko Kesehatan Bencana Pergeseran Tanah di Nyalindung Sopandi di Sukabumi, Kamis.

Menurutnya, korban bencana yang mengungsi ini merasa cemas dan stres karena selain harus beradaptasi di pengungsian dengan kondisi yang serba darurat dan tentunya memikirkan rumah dan masa depannya.

Namun tingkat stres yang dialami para pengungsi ini masih ringan karena tetap bisa beraktivitas meskipun ada kesedihan yang mendalam di benak mereka karena ikut menjadi korban bencana meskipun tidak ada korban jiwa, namun harus kehilangan rumah.

Selain stres, pengungsi juga banyak yang mengeluhkan gatal-gatal, batuk dan hypertensi. Ini dikarenakan kondisi pengungsian yang berdebu dan serba darurat.

Tetapi, ia menjelaskan, warga yang sudah menjalani pengobatan keluhannya berkurang, walaupun ada beberapa diantaranya yang masih sering datang ke posko kesehatan untuk meminta obat dan diperiksa tensi darahnya.

Mayoritas pengungsi yang mengalami keluhan penyakit tersebut berusia dewasa dan ada juga anak-anak tetapi tidak banyak.

Untuk melayani warga, posko kesehatan itu dibuka 24 jam dengan melibatkan tim medis dari tiga puskesmas yakni Purabaya, Nyalindung dan Cijangkar.

"Setiap harinya rata-rata pengungsi yang datang ke posko kesehatan sebanyak 40 orang, walaupun hanya sekedar ditensi darahnya, minta obat dan konsultasi. Tetapi hingga kini tidak ada warga yang mengalami sakit parah atau harus dirujuk," tambahnya.

Sopandi mengatakan untuk persediaan obat mencukupi bahkan berlimpah, obat yang disiapkan pun disesuaikan dengan keluhan dan penyakit warga. Bahkan ada juga vitamin untuk menjaga kondisi tubuh pengungsi agar tidak mudah terserang penyakit.

Sementara, Kepala Seksi Kedaruratan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Sukabumi Eka Widiaman mengatakan jumlah pengungsi hingga saat ini tercatat mencapai 354 jiwa yang tersebar di beberapa titik.

Selain itu, untuk kebutuhan dasar pengungsi mulai dari makanan, perlengkapan tidur dan mandi hingga bantuan darurat lainnya seperti paket sembako tidak kekurangan karena selain dari pemerintah, bantuan juga datang dari berbagai komunitas serta warga peduli bencana ini.

"Kebutuhan untuk anak dan balita seperti pampers, susu dan lain-lain tersedia. Kami pun sudah membuka dapur umum untuk menyiapkan makanan siap saji bagi pengungsi untuk kebutuhan makan pagi, siang dan malam. Sehingga kebutuhan dasar pengungsi bisa terjamin," katanya. 
 
Pewarta : Aditia Aulia Rohman
Editor: Budi Santoso
COPYRIGHT © ANTARA 2019