Taman baca pasang aneka taktik untuk menarik anak-anak

Taman baca pasang aneka taktik untuk menarik anak-anak

Anak-anak membaca buku di halaman Rumah Baca Zhaffa di Manggarai, Jakarta Selatan, Selasa (30/4/2019). (ANTARA/Ahmad Faishal Adnan)

Jakarta (ANTARA) - Beberapa Taman Baca Masyarakat (TBM) di Jakarta menggunakan berbagai taktik untuk mengajak anak-anak membaca, mulai dari menciptakan suasana yang nyaman sampai menyelenggarakan aneka kegiatan interaktif bagi anak.

TBM Masjid Fatahillah di Kramatjati, Jakarta Timur, antara lain menggunakan seni melipat kertas serta kegiatan berkebun untuk menarik kedatangan anak-anak.

"Kami mencari sendiri cara membuat origami dari internet atau buku. Tidak ada pengajar khusus, semuanya dilakukan oleh para relawan di sini," kata penggagas TBM Masjid Fatahillah Harto Oetomo (81) kepada Antara, Selasa (30/4).

Di taman baca yang terbentuk tahun 2003 itu, pengelola dan relawan juga mengajak anak-anak membuat apotek hidup dengan menanam tanaman obat seperti kumis kucing, sirih dan lidah buaya.

"Pendekatan ini memiliki dua dampak, pertama, anak-anak memiliki rasa sayang terhadap tanaman. Kedua, anak-anak mencari tahu dari buku mengenai kegunaan tanaman-tanaman apotek hidup itu," imbuh Harto, seorang pensiunan Angkatan Darat.

Dalam sehari kini ada 10 sampai 15 anak maupun orang dewasa yang mengunjungi TBM Masjid Fatahillah untuk menikmati koleksinya, yang meliputi sekitar 6.000 buku, mulai dari buku pelajaran, bahasa, agama, hingga komik.

"Kami pernah mendapat sumbangan 90 buku dari pemerintah pada 2017. Mudah-mudahan semakin banyak bantuan donasi buku dari pemerintah karena kami sangat membutuhkan buku-buku yang baru," jelas Harto.

Kalau TBM Masjid Fatahillah memanfaatkan origami dan apotek hidup untuk menarik anak-anak ke taman baca, Rumah Baca Zhaffa (RBZ) di kawasan Manggarai, Jakarta Selatan, mengajak anak-anak mengakrabi buku melalui kegiatan kreatif menggunakan yo-yo.

"Kami menganggap rumah baca bukan sekadar komunitas buku. Maka kami adakan berbagai kegiatan kreatif yang menuntut partisipasi aktif dari anak-anak," kata Yudi Hartanto, pengusaha kedai kopi yang mendirikan rumah baca itu.

RBZ bekerja sama dengan komunitas yo-yo membuat program bertajuk Lapar Project untuk mengajak anak-anak melukis yo-yo dan wadah penyimpannya untuk dilelang dalam rangkaian kegiatan amal. Kegiatan itu mendorong anak-anak membuka buku untuk mendapatkan informasi dan inspirasi.

Rumah baca itu fokus pada kegiatan bimbingan belajar, keterampilan, dan wisata. Pada akhir pekan mereka mengadakan bimbingan belajar baca-tulis-hitung, IPA, Matematika, dan Bahasa Inggris.

"Belakangan ini ada beberapa komunitas yang terlibat aktif dengan memberikan bantuan laptop dan pembangunan ruang baca sehingga kami kami dapat belajar bersama setiap Selasa dan Jumat," kata Yudi.

Sementara taman baca yang lain menerapkan strategi yang berbeda untuk mendekatkan anak-anak dengan buku.

Kampung Buku yang ada di Cibubur, Jakarta Timur, mengajak anak-anak membaca sambil menikmati alam terbuka, sementara TBM Kolong merangkul anak-anak jalanan di sekitar Ciputat lewat kegiatan membaca, bermain musik, dan berolahraga.

Baca juga: Komunitas muda Jombang kampanye kampung literasi
Baca juga: TB Pelangi resmikan perpustakaan ke-100 di NTT

Baca juga: Kampung Rimba Jaya, desa yang gemar baca di Papua

 
Pewarta : Virna P Setyorini/Ahmad Faishal Adnan
Editor: Budi Santoso
COPYRIGHT © ANTARA 2019