Pabrik hilirisasi batu bara jadi DME kurangi impor LPG

Pabrik hilirisasi batu bara jadi DME kurangi impor LPG

Direktur Utama PT Bukit Asam (BA) Tbk. Arviyan Arifin usai pencanangan pembangunan Pabrik Hilirisasi Batu Bara menjadi DME di Tambang Peranap PT Bukit Asam Tbkdi Peranap, Riau, Kamis (7/2/2019). ( ANTARA/Ahmad Wijaya)

Peranap, Riau (ANTARA News) - Keberadaan pabrik hilirisasi batu bara  menjadi Dimethyl Ether (DME) di tambang Peranap, Kabupaten Indrahili Hulu, Riau, yang selesai tahun 2022 diharapkan mampu mengurangi impor LPG.

"Seperti kita ketahui selama ini kebutuhan LPG masih impor. Dengan adanya pabrik hilirisasi batu bara jadi DME maka kebutuhan LPG bisa terpenuhi dari dalam negeri,"  kata Dirut PT Bukit Asam Tbk. Arviyan Arifin kepada pers usai pencanangan  pembangunan Pabrik Hilirisasi Batu Bara menjadi DME di Tambang Peranap PT Bukit Asam Tbkdi Peranap, Riau, Kamis.

Pencanangan ditandai dengan ditekannya tombol oleh Direktur Utama PT Bukit Asam (BA) Arviyan Arifin, Direktur Perencanaan Investasi dan Manajemen Risiko Pertamina (Persero) Heru Setiawan, Direktur Utama PT Air Products Indonesia Triwidio Pramono, Direktur Utama PT Indonesia Asahan Alumunium (Persero) Budi Gunadi Sadikin, Sekretaris Daerah Provinsi Riau Ahmad Hijazi, dan Wakil Bupati Indragiri Hulu Khairizal.

Keberadaan pabrik hilirisasi batu bara jadi DME ini sangat penting dan strategis untuk mewujudkan ketahanan energi nasional dan mengurangi impor elpiji, selain dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat di Indragiri Hulu.

Menurutnya, Indonesia harus tetap mengembangkan industri hilirisasi batubara bukan hanya dalam mengurangi impor tapi juga dalam rangka mengembangkan ekspor.

"Hilirisasi juga penting dalam upaya mengurangi polusi dari batubara dengan memproduksi energi bersih berupa Syngas yang akan jadi hulu dari berbagai produk seperti DME bahkan sampai solar dan avtur," katanya.

Wilayah tambang PTBA di Peranap akan menjadi lokasi gasifikasi batubara karena memiliki cadangan besar batubara kalori rendah. Dengan adanya proyek gasifikasi batubara di Mulut Tambang Peranap ini tentunya akan dapat menghidupkan dan mengoptimalisasi sumber daya alam batubara Peranap untuk ketahanan energi nasional dan kesejahteraan masyarakat.

Nantinya, batubara kalori rendah yang berasal dari tambang PTBA Peranap, Riau akan diolah menjadi syngas untuk kemudian diproses menjadi DME. DME inilah yang akan digunakan oleh Pertamina sebagai substitusi LPG.

Adanya DME yang digunakan untuk LPG ini merupakan salah satu langkah sinergi BUMN dan langkah Pertamina untuk dapat menekan impor LPG.

Langkah ini dinilai sebagai langkah strategis secara nasional.

Setelah pencanangan, akan dilakukan tahap selanjutnya yakni konstruksi pembangunan pabrik. Rencananya, usaha hilirisasi batubara di mulut tambang batubara Peranap ini memiliki kapasitas 1,4 juta ton DME per tahun dengan kebutuhan batubara sebesar 9,2 juta ton per tahun.

Sekretaris Daerah Provinsi Riau Ahmad Hijazi, mengatakan dirinya menyambut baik pembangunan pabrik di wilayahnya.

"Riau selama ini memang sudah dikenal sebagai wilayah yang menghasilkan migas untuk kebutuhan nasional dan adanya pabrik ini nantinya akan sangat menguntungkan," katanya.

Hijazi sangat berharap realisasi pembangunan pabrik segera terwujud dalam rangka memenuhi kebutuhan LPG tidak saja di Riau tapi juga secara nasional.

Baca juga: Bukit Asam-Pertamina canangkan pembangunan pabrik hilirisasi batubara
Pewarta : Ahmad Wijaya
Editor: M Razi Rahman
COPYRIGHT © ANTARA 2019