LIPI kembangkan KIT deteksi Biomarker Kanker Payudara HER-2

LIPI kembangkan KIT deteksi Biomarker Kanker Payudara HER-2

Peneliti Pusat Penelitian Bioteknologi LIPI Desriani (kiri) menunjukkan KIT Deteksi Biomarker Kanker Payudara Positif HER2 dalam konferensi pers "Pemanfaatan Teknologi dan Potensi Sumber Daya Hayati untuk Pencegahan Kanker" di Gedung LIPI, Jakarta, Senin (4/01/2019). (Foto: ANTARA News/Martha Herlinawati Simanjuntak)

Jakarta (Antara) - Lembaga Ilmu Pengetahuan indonesia (LIPI) telah mengembangkan KIT Deteksi Biomarker Kanker Payudara Positif HER2 untuk mendeteksi dini penyakit kanker sehingga dapat menjadi masukan untuk penentuan jenis terapi atau pengobatan kanker. 

"Deteksi ini untuk mendapatkan langkah selanjutnya ke arah penentuan pasien untuk terapi dengan obat trastuzumab," kata peneliti Pusat Penelitian Bioteknologi LIPI Desriani dalam konferensi pers "Pemanfaatan Teknologi dan Potensi Sumber Daya Hayati untuk Pencegahan Kanker" di Gedung LIPI, Jakarta, Senin. 

Pada kanker payudara, ada tiga gen yang menjadi penyebab munculnya kanker yaitu estrogen receptor, progresteron receptor dan human epidermal growth factor receptor 2 (HER2).

Desriani mengatakan 20 persen penderita kanker payudara atau satu dari lima penderita kanker payudara disebabkan oleh HER2 positif.

"Kit ini nanti digunakan untuk mendeteksi apakah pasien itu merupakan pasien kategori HER2, sehingga nanti akan menentukan terapi yang akan didapatkan oleh pasien tersebut," tuturnya.

Angka kejadian kanker tertinggi untuk perempuan adalah kanker payudara yaitu sebesar 42,1 per 100.000 penduduk yang diikuti kanker leher rahim sebesar 23,4 per 100.000 penduduk.

Desriani menuturkan kit tersebut telah berhasil divalidasi dengan metode Chromogenic In Situ Hybridization (CISH) dengan tingkat kesesuaian yang tinggi, yakni 86 persen untuk mendeteksi status HER2 pada pasien kanker. Angka ini jauh lebih tinggi dibandingkan dengan kesesuaian pemeriksaan imunohistokimia (IHK) dengan Fluorescence in Situ Hybridization (FISH) yang hanya berkisar 12-36 persen. 

Kit tersebut menentukan status HER2 yakni positif atau negatif pada pasien kanker payudara berbasis pada reaksi qPCR. 

Untuk mendeteksi status HER2, berdasarkan hasil penelitian LIPI jika menggunakan kit tersebut dan qPCR maka biaya pemeriksaan status HER2 sebesar Rp150 ribu sampai Rp200 ribu, sementara dengan metode FISH yang yang menghasilkan diagnosis baku emas maka biayanya sebesar Rp2 juta sampai Rp2,5 juta, dan biaya pemeriksaan yang harus dikeluarkan dengan metode IHK sebesar Rp500 ribu sampai Rp750 ribu.

Dengan demikian, pemeriksaan status HER2 dengan penggunaan KIT tersebut akan lebih murah bagi pasien. 

Dia menuturkan semakin dini status HER2 terdeteksi, maka semakin tinggi peluang kesembuhan penderita kanker jika segera dilakukan terapi pengobatan.*

Baca juga: Tingkatkan kesadaran deteksi dini kanker payudara

Baca juga: YKPI : Deteksi dini perbesar kemungkinan kanker sembuh


 
Pewarta : Martha Herlinawati S
Editor: Erafzon Saptiyulda AS
COPYRIGHT © ANTARA 2019