Kebijakan pemerintah perlu difokuskan pada peningkatan daya beli pekerja

Kebijakan pemerintah perlu difokuskan pada peningkatan daya beli pekerja

Kepala BPS Kecuk Suhariyanto. (ANTARA /Puspa Perwitasari)

Jakarta (ANTARA News) - Kebijakan yang diambil pemerintah diharapkan dapat berfokus untuk meningkatkan dan menjaga daya beli kalangan pekerja agar peningkatan upah yang mereka terima tidak tergerus oleh tingkat inflasi dalam waktu bersamaan.

Kepala BPS Kecuk Suhariyanto di Jakarta, Senin, menyatakan bahwa upah nominal harian buruh bangunan pada Mei 2018 naik 0,14 persen dibandingkan dengan upah April 2018, yaitu dari Rp85.983 menjadi Rp86.104 per hari, sedangkan upah riil mengalami penurunan sebesar 0,07 persen.

Sebagaimana diketahui, upah nominal buruh atau pekerja adalah rata-rata upah harian yang diterima buruh sebagai balas jasa pekerjaan yang telah dilakukan.

Sedangkan upah riil adalah perbandingan antara upah nominal dengan indeks konsumsi rumah tangga.

Dengan demikian, bila upah riil buruh bangunan mengalami penurunan, maka dapat dikatakan bahwa kenaikan upah nominal yang mereka terima ternyata masih lebih rendah dibandingkan dengan kenaikan indeks konsumsi rumah tangga sehari-hari mereka.

Masih berdasarkan data BPS, untuk upah nominal harian buruh tani nasional pada Mei 2018 naik 0,36 persen dibandingkan upah buruh tani April 2018, yaitu dari Rp51.864 menjadi Rp52.052 per hari, sedangkan upah riil buruh tani meningkat 0,17 persen.

Sebelumnya, Bank Indonesia dan pemerintah menampik inflasi inti Ramadhan tahun ini yang cenderung rendah dibanding tiga tahun terakhir telah mencerminkan terjadinya penurunan daya beli masyarakat.

Baca juga: Kebijakan pemerintah perlu tingkatkan daya beli warga

Bank Sentral memandang laju inflasi inti (core inflation) hingga Mei 2018 yang sebesar 0,19 persen (bulanan/mtm) dan 2,75 persen (tahun ke tahun/yoy) masih mencerminkan kenaikan permintaan dan harga barang sehingga tidak sepenuhnya merefleksikan daya beli masyarakat yang menurun.

"Kami lihat sekarang inflasi inti masih naik, berarti masih ada kenaikan harga, masih ada pergerakan suplai dan permintaan. Jika terjadi deflasi, itu yang bisa mencerminkan tidak adanya daya beli," ujar Direktur Departemen Kebijakan Ekonomi dan Moneter BI Reza Anglingkusumo di Jakarta, Selasa (5/6).

Inflasi inti di Mei 2018 yang sebesar 0,19 persen (mtm) merupakan inflasi di mayoritas momentum Ramadhan yang terendah sejak 2014. Jika secara rata-rata, inflasi inti pada Ramadhan selama empat tahun terakhir sebesar 0,32 persen (mtm).

Asisten Deputi Moneter Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian Edi P. Pambudi mengklaim pemerintah juga tidak mendeteksi adanya pelemahan daya beli masyarakat.

Baca juga: BI-Pemerintah tampik daya beli masyarakat tergerus
Pewarta : M Razi Rahman
Editor: Suryanto
COPYRIGHT © ANTARA 2018