Imparsial ingatkan pendidikan HAM penting jamin kebebasan beragama

Imparsial ingatkan pendidikan HAM penting jamin kebebasan beragama

Tangkapan layar ketika Peneliti Imparsial Gustika Jusuf Hatta memberi paparan dalam diskusi publik bertajuk “Refleksi dan Langkah Pemulihan Diri Anak Muda Korban dan Penyintas KBB” yang disiarkan secara langsung di kanal YouTube Indonesia’s NGO Coalition, Rabu (20/10/2021). ANTARA/Putu Indah Savitri

Jakarta (ANTARA) - Peneliti Imparsial Gustika Jusuf Hatta mengatakan bahwa pendidikan hak asasi manusia (HAM) penting untuk menjamin dan menanamkan nilai mengenai kebebasan beragama dan berkeyakinan pada generasi muda di Indonesia.

“Pendidikan HAM itu, saya rasa, harus mulai sejak dini. Karena, ketika kita masih muda, itu saat kita membangun nilai-nilai tersebut (kebebasan beragama dan berkeyakinan, Red.),” kata Gustika Jusuf dalam diskusi publik bertajuk “Refleksi dan Langkah Pemulihan Diri Anak Muda Korban dan Penyintas KBB” yang disiarkan secara langsung di kanal YouTube Indonesia’s NGO Coalition, Rabu.

Saat ini, Indonesia belum memiliki mata pelajaran khusus terkait hak asasi manusia. Padahal, menurut Gustika, pemahaman mengenai hak-hak dasar yang dimiliki oleh manusia sangat krusial untuk menumbuhkan kesadaran masyarakat mengenai pentingnya toleransi dan jaminan kebebasan beragama di negara yang memiliki beragam kebudayaan.

“Nilai-nilai tersebut, nilai penghormatan atas kebebasan beragama dan berkeyakinan, itu masuk ke dalam HAM, dan tentunya juga berhubungan dengan Pancasila,” ujar dia.

Gustika mengutip tulisan tenaga pendidik Jurusan Psikologi Pendidikan dan Bimbingan Universitas Negeri Yogyakarta Isti Yuni Purwanti yang mengatakan bahwa nilai tidak timbul dengan sendirinya, tetapi ada faktor-faktor yang merupakan prasyarat, yaitu bahasa.

Penggunaan bahasa, kata dia, tentu mendapat pengaruh yang berasal dari golongan, kehendak, perasaan, dan kecenderungan dari masing-masing orang.

Oleh karena itu, nilai mempunyai kualitas sosial, mengingat berbagai nilai dapat diperoleh oleh masing-masing insan melalui interaksi dengan orang lain.

“Sifat perkembangan nilai berdasarkan pada dua hal, yaitu untuk diri sendiri dan untuk lingkungan yang lebih luas,” kata dia melanjutkan.

Sifat perkembangan tersebut berawal dari hubungan timbal balik antara dua sifat nilai intrinsik dan instrumental yang menyebabkan adanya sifat perkembangan dan perubahan pada nilai.

“Menurut pandangan ini, nilai-nilai adalah instrumen atau alat yang digunakan oleh seseorang sebagai pendorong untuk mencapai tujuan,” kata Gustika.

Dengan demikian, ia kembali mengingatkan bahwa nilai-nilai kebebasan beragama dan berkeyakinan sangat penting untuk ditanamkan pada anak muda melalui pendidikan dan dengan bersosialisasi atau melakukan interaksi sosial.
Baca juga: Jokowi: jangan mempertentangkan HAM dan pendidikan hukum
Baca juga: Kementerian HAM cemaskan aksi kekerasan dunia pendidikan
Pewarta : Putu Indah Savitri
Editor: Budisantoso Budiman
COPYRIGHT © ANTARA 2021