Duterte bantah tuduhan pasokan medis dibeli terlalu mahal

Duterte bantah tuduhan pasokan medis dibeli terlalu mahal

Presiden Filipina Rodrigo Duterte berbicara saat menerima kedatangan pertama vaksin COVID-19 di Pangkalan Udara Villamor di Pasay, Metro Manila, Filipina, Februari 2021. ANTARA/Reuters.

Manila (ANTARA) - Presiden Filipina Rodrigo Duterte pada Kamis membantah tuduhan bahwa pasokan medis, seperti alat pelindung diri dan masker, yang dibeli pemerintah terlalu mahal.

Duterte mengecam anggota parlemen yang menyelidiki pejabat pemerintah atas pembelian darurat pasokan medis itu pada tahun lalu.

Duterte masih tetap populer di Filipina, tetapi pemerintahannya makin sering mendapat kritik atas langkah penanganan terhadap salah satu wabah virus corona terburuk di Asia itu.

"Pada puncak pandemi, ketika itu dimulai, kita tidak punya apa-apa. (Pembelian pasokan medis) itu mahal karena kurangnya pasokan," kata Duterte dalam pidato nasional mingguan pada larut malam.

Baca juga: Kasus COVID-19 rekor, Filipina perpanjang pembatasan

Anggota parlemen oposisi Filipina mempertanyakan kesepakatan darurat pemerintah untuk membeli pasokan medis dari perusahaan bermodal rendah yang memiliki hubungan dengan sejumlah pejabat pemerintah.

Dalam rapat dengar pendapat soal anggaran, pejabat kementerian kesehatan Filipina dicecar dengan pertanyaan-pertanyaan tentang dana pandemi yang tidak terpakai.

Para auditor negara telah menandai "kekurangan" pada lebih dari 1 miliar dolar AS dalam dana penanganan COVID-19 nasional Filipina.

"Senat, jangan selidiki program yang sedang berlangsung. Kalian akan menggagalkannya dengan kegemaran menyelidiki kantor-kantor pemerintah," kata Duterte.

Baca juga: Filipina perpanjang larangan perjalanan 10 negara, termasuk Indonesia

Dengan 2 juta kasus infeksi virus corona dan 33.680 kematian akibat COVID-19, Filipina memiliki jumlah kasus dan kematian COVID-19 tertinggi kedua di Asia Tenggara, setelah Indonesia.

Lonjakan kasus COVID-19 yang dipicu oleh varian Delta membanjiri rumah sakit di Filipina, sementara para petugas kesehatan telah memprotes untuk mengakhiri "pengabaian pemerintah" dan tunjangan yang tidak dibayar.

Duterte, yang dilarang oleh konstitusi untuk mencalonkan diri lagi, berencana maju sebagai wakil presiden dalam pemilihan umum tahun depan.

Para kritikus memandang langkah Duterte itu sebagai upaya untuk memperluas kekuasaannya.

Sumber: Reuters

Baca juga: Kasus COVID-19 Filipina dekati level tertinggi, Manila 'lockdown'
Baca juga: COVID naik, Filipina perpanjang jam malam di Manila
Pewarta : Yuni Arisandy Sinaga
Editor: Anton Santoso
COPYRIGHT © ANTARA 2021