Tiga profesor IPB sampaikan orasi ilmiah jelang pengukuhan guru besar

Tiga profesor IPB sampaikan  orasi ilmiah jelang pengukuhan guru besar

Gedung Rektorat IPB University. ANTARA/HO-Humas IPB University.

Bogor (ANTARA) - Tiga profesor dari IPB University menyampaikan ringkasan orasi ilmiahnya kepada media massa secara virtual yang dipantau dari Bogor, Kamis, menjelang pengukuhannya sebagai guru besar tetap oleh Dewan Guru Besar IPB University.

Ketiga profesor tersebut adalah Prof Dr Eng Uju SPi MSi; dosen di Departemen Teknologi Hasil Perairan Fakultas Perikanan dan Kelautan, Prof Dr Ir Titi Candra Sunarti, MSi dosen di Dapertemen Teknologi Industri Fakultas Teknologi Pertanian, serta Prof Dr Ir Raden Roro Dyah Perwitasari, MSc; dosen di Fakultas MIPA.

Ketiga profesor tersebut, masing-masing menyampaikan ringkasan orasi ilmiahnya secara virtual kepada media massa. Prof Dr Eng Uju SPi M.Si, menyampaikan ringkasan orasi ilmiahnya berjudul,"Biorefinery dan Peningkatan Nilai Tambah Rumput Laut Carrageenophyte Melalui Konsep Green Processing Technology.

Menurut Uju, rumput laut Carrageenophyte cottonii yang dikenal dengan nama dagang cottonii dapat menghasilkan karaginan dan bahan biokimia, seperti pigmen fikoeritrin, selulosa, pupuk, bioetanol, serta produk biokimia lainnya yang memiliki nilai jual dan nilai tambah tinggi untuk industri pengolahan karaginan.

Pigmen fikoeritrin dihasilkan dari rumput laut melalui proses ekstraksi. Secara umum ekstraksi dilakukan dengan maserasi pada suhu rendah dan memerlukan waktu sekitar 24 jam.

Waktu ekstraksi itu dapat diakselerasi menjadi lebih cepat sampai empat kali lipat melalui proses ultrasonikasi, serta konsentrasi pigmen yang dihasilkan 1,6 kali lebih tinggi.

Pigmen fikoeritrin yang banyak dimanfaatkan untuk pewarna makanan, obat-obatan, dan bahan kosmetik ini, harganya juga sangat mahal, mencapai 14 USD atau Rp200 ribu per miligram.

Dalam penelitiannya, Uji melihat, pigmen fikoeritrin pada industri "refined carrageenan", juga dapat diproses melalui proses mikrofiltrasi menggunakan alkohol. "Melalui cara ini biaya prosesnya lebih tinggi, tapi mutu yang dihasilkan lebih baik," katanya.

Baca juga: Jangan remehkan kontribusi rumput laut RI untuk dunia
Baca juga: KKP sebut rumput laut bisa atasi persoalan limbah plastik


Prof Dr Ir Titi Candra Sunarti menyampaikan ringkasan orasi ilmiahnya bertajuk, "Peran Rekayasa Proses dalam Peningkatan Nilai Tambah Komoditas Karbohidrat".

Karbohidrat adalah komponen bahan pangan yang paling banyak tersebar di alam, dan menjadi sumber energi utama bagi makhluk hidup. Karbohidirat yang sebagian besar dimanfaatkan sebagai bahan pangan, menghasilkan dua komponen polier utama yakni selulosa dan pati.

"Karbohidrat sebagian kecil juga dimanfaatkan untuk bahan baku industri," katanya.

Sebagai bahan baku industri pemanis, kata dia, pemilihan teknologi proses hidrolisis pati menjadi sangat penting. "Rekayasa proses diperlukan untuk meningkatkan kinerja industri, dan mengatur proses konversi produk sesuai dengan kebutuhan industri," katanya.

Baca juga: Gula cair kulit singkong buatan alumni IPB rambah pasar
Baca juga: Mahasiswa IPB buat gula dari kulit singkong


Prof Dr Ir Raden Roro Dyah Perwitasari, MSc; dosen di Fakultas MIPA, menyampaikan ringkasan orasi ilmiah berjudul "Menerjemahkan Kajian Ilmiah ke dalam Aksi Konservasi: Pelajaran dari Studi Satwa Primata Indonesia".

RR Dyah Prwitasari memilih obyek penelitiannya satwa primata di Indonesia yang spesiesnya paling beragam di dunia, tapi saat ini mengalami ancaman kehilangan habitat akibat manusia.

Menurut Wita, konservasi genetik dan aplikasinya untuk konservasi satwa primata menjadi sangat penting, sebelum satwa primata punah tanpa data biologi yang lengkap dan rinci.

Baca juga: Alumni IPB salurkan 1.400 paket benih sayuran di Sumba Timur
Baca juga: IPB University beri dana pengembangan bagi 10 inovasi
Baca juga: IPB: Akuaponik solusi ketahanan pangan rumah tangga maupun komersial
Pewarta : Riza Harahap
Editor: Budhi Santoso
COPYRIGHT © ANTARA 2021