Gelombang tinggi di pantai selatan Cianjur terjang dua warung

Gelombang tinggi di pantai selatan Cianjur terjang dua warung

Warung di pinggir Pantai Apra, Kecamatan Sindangbarang, Cianjur, Jawa Barat, rusak akibat dihantam gelombang tinggi, bahkan gelombang menyebabkan abrasi yang mengancam puluhan warung dan perkampungan warga, Senin (2/8). ANTARA (Ahmad Fikri)

Cianjur (ANTARA) - Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Cianjur, Jawa Barat, mencatat dua warung di pinggir Pantai Apra, Kecamatan Sindangbarang, rusak berat dihantam gelombang tinggi yang melanda kawasan tersebut, sejak beberapa hari terakhir.

Sekretaris BPBD Cianjur, Irfan Sopyan saat dihubungi di Cianjur, Senin, mengatakan pihaknya telah mengimbau nelayan tidak melaut karena gelombang mencapai 7 meter lebih sejak beberapa hari terakhir, sehingga mengancam keselamatan nelayan dan pemilik warung pinggir pantai.

Baca juga: Warga Kebumen diminta waspadai gelombang tinggi Pantai Sawuk

"Ketinggian gelombang mencapai 7 meter, sehingga dapat mengancam keselamatan nelayan serta pemilik warung pinggir pantai. Hari ini, dua warung pinggir pantai rusak berat dihantam gelombang," katanya.

Gelombang tinggi yang menghantam hingga ke daratan, mengakibatkan abrasi sepanjang 500 meter dengan kedalaman 5 meter, sehingga mengancam puluhan warung yang berdiri di pinggir pantai selatan tepatnya di Pantai Apra.

Baca juga: BMKG peringatkan potensi hujan, kebakaran hingga gelombang tinggi

Tidak hanya warung pinggir pantai, gelombang tinggi juga mengancam pemukiman warga yang hanya berjarak 12 meter dari titik abrasi, dimana terdapat 40 rumah dengan jumlah jiwa sebanyak 150 orang.

"Kami sudah menyiagakan petugas BPBD dan relawan setiap malam, untuk memantau dan segera mengevakuasi warga jika gelombang kembali tinggi, serta abrasi terus meluas," katanya.

Baca juga: BMKG imbau kapal nelayan waspadai gelombang 4 meter di Laut Sawu

Sementara pemilik warung Imas (36) mengatakan gelombang tinggi disertai abrasi yang menyebabkan warungnya rusak, merupakan yang terparah sejak lima tahun terakhir, meski setiap tahun gelombang tinggi kerap terjadi.

"Biasanya hanya sampai di bibir pantai, namun tahun ini, gelombang menghempas hingga ke daratan, merusak rumah dan mengancam perkampungan warga karena abrasi yang meluas. Untuk antisipasi semua warga diimbau waspada," katanya.

Baca juga: BMKG: Gelombang tinggi landa sebagian perairan Malut
Pewarta : Ahmad Fikri
Editor: Agus Salim
COPYRIGHT © ANTARA 2021