BRIN: Sinergikan STI nasional dengan agenda OKI

BRIN: Sinergikan STI nasional dengan agenda OKI

Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Laksana Tri Handoko. ANTARA/Humas BRIN/am.

Jakarta (ANTARA) - Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) menyatakan perlunya memaksimalkan upaya untuk menyinergikan program sains, teknologi, dan inovasi (STI) nasional dengan negara-negara anggota Organisasi Kerja Sama Islam (OKI) untuk mendukung Agenda STI OKI 2026 dan Pembangunan Berkelanjutan 2030.

"Pertama, negara-negara anggota OKI perlu memperkuat pembangunan STI nasionalnya, memaksimalkan upaya untuk menyinergikan program STI nasionalnya untuk mendukung Agenda STI OKI 2026, Agenda Pembangunan Berkelanjutan 2030, serta mengoptimalkan upaya nasional untuk menghadapi pandemi COVID-19," kata Kepala BRIN Laksana Tri Handoko dalam keterangannya di Jakarta, Jumat.

Baca juga: Ma'ruf Amin ajak negara OKI saling menguatkan pulihkan ekonomi dunia

Baca juga: Menlu RI ajak OKI bersatu tolak aneksasi Palestina oleh Israel


Kepala BRIN menghadiri Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) IPTEK ke-2 OKI dalam jaringan yang mengusung tema Ilmu Pengetahuan, Teknologi, dan Inovasi: Membuka Cakrawala Baru.

Pada kesempatan tersebut, Kepala BRIN berbagi tiga pandangan Indonesia tentang bagaimana mendorong lebih banyak kerja sama antar-negara OKI, serta menyosialisasikan kebijakan nasional tentang perkembangan kebijakan dan capaian STI di Indonesia.

Dalam penyampaian pandangan kedua, Handoko mengajak negara-negara anggota OKI meningkatkan kolaborasi di antara para ilmuwan dan peneliti atau Kolaborasi untuk Berinovasi.

Handoko menuturkan Indonesia melalui BRIN akan memiliki kapasitas lebih untuk mendukung penelitian dan inovasi di banyak fokus area penelitian yang sejalan dengan Agenda OKI STI 2026.

"Melalui kolaborasi global dan regional, kita dapat memperkuat ikatan melalui STI, interaksi di tingkat akar rumput, yakni ilmuwan dan peneliti. Guna mendukung lebih banyak kolaborasi, kami juga dengan senang hati mengadakan program mobilitas ilmuwan dan peneliti," ujar Handoko.

Yang ketiga adalah Pendidikan untuk Inovasi dan Kebebasan Pendidikan (Merdeka Belajar).Saat ini Indonesia sedang mengembangkan transformasi filosofis baru dalam sistem pendidikannya, yang dikenal dengan Merdeka Belajar.

Merdeka Belajar merupakan upaya untuk menciptakan suasana pendidikan baru yang kondusif, sekaligus memperkuat peran seluruh pemangku kepentingan dalam dunia pendidikan.

"Merdeka Belajar dirancang untuk menghilangkan semua hambatan yang tidak perlu, memberikan pembelajaran yang lebih kreatif dan inovatif, dan membuka cakrawala baru bagi siswa. Suatu upaya untuk menjadikan siswa lebih baik dan kompetitif," tuturnya.

Baca juga: Menlu RI akan ikuti pertemuan OKI untuk bahas isu aneksasi Palestina

Baca juga: Indonesia tekankan kemakmuran umat jadi prioritas kerja sama OKI


Dalam kesempatan itu, Handoko menuturkan Indonesia baru membentuk BRIN pada 28 April 2021, sebagai badan super untuk mengintegrasikan semua program ilmu pengetahuan, teknologi dan inovasi di berbagai lembaga penelitian pemerintah di Indonesia.

Selain itu, Indonesia telah menetapkan roadmap penelitian nasional 2017–2045. Pada tahap saat ini, semua bidang prioritas STI Indonesia terintegrasi untuk mendukung kebijakan dan program terkait "digital, blue, green economy".

Terkait dengan upaya Indonesia dalam memerangi COVID-19, sejak awal Maret 2020, para peneliti atau ilmuwan dan inovator Indonesia, baik dari pemerintah maupun swasta telah melakukan berbagai penelitian dan inovasi pengembangan penelitian dan inovasi bidang kesehatan.

Beberapa produk riset dan inovasi, di antaranya adalah alat skrining dan diagnostik COVID-19, surveilans menggunakan seluruh urutan genom virus SARS-CoV-2, juga pengembangan vaksin, yakni vaksin Merah Putih.
Pewarta : Martha Herlinawati Simanjuntak
Editor: Endang Sukarelawati
COPYRIGHT © ANTARA 2021