Kata Guru Besar Paru FKUI tentang prediksi "herd imunity" di Indonesia

Kata Guru Besar Paru FKUI tentang prediksi

Dokumentasi - Satgas Penanganan COVID-19 Provinsi Kepulauan Bangka Belitung menyatakan 142.886 jiwa telah menjalani vaksinasi COVID-19, sebagai upaya pemerintah meningkatkan kekebalan tubuh masyarakat dari virus corona itu. ANTARA/Aprionis.

Jakarta (ANTARA) - Guru Besar Paru dari Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, Prof. Tjandra Yoga Aditama, memberikan pandangannya terkait tercapainya herd immunity atau kekebalan kelompok di Indonesia seiring upaya percepatan vaksinasi pemerintah melalui Program Vaksinasi Nasional. Mungkinkah bisa terjadi tahun ini?

Menurut dia saat dihubungi ANTARA, Sabtu, dalam mencapai kekebalan kelompok, saat ini masih terdapat sejumlah variabel yang belum bisa diprediksi, salah satunya seberapa besar dampak mutasi atau varian virus pada efektivitas vaksin.

Dari sejumlah varian virus yang sudah ditemukan di Indonesia, B1617 dan B1617.2 yang termasuk satu di antaranya. Laporan awal dari Inggris menunjukkan ada sedikit penurunan efektivitas vaksin Pfizer BioNTech dan AstraZeneca terhadap B1617.2 (salah satu jenis B1617) dibandingkan B117. Data efikasi vaksin Pfizer BioNTech adalah 93.4 persen terhadap B117 dan 87,9 persen terhadap B1617.2.

Baca juga: Pemerintah percepat terwujudnya "herd immunity"

Sementara untuk vaksin AstraZeneca sekitar 66.1 persen terhadap B117 dan 59,8 persen terhadap B.1.617.2.

"Karena data-data masih awal maka WHO menyatakan bukti ilmiah dampak efikasi vaksin pada varian B.1.617.1, B.1.617.2 atau B.1.617.3 memang masih amat terbatas. Artinya perlu ditunggu perkembangan hasil penelitian selanjutnya," kata Tjandra.

Selain soal efektivitas vaksin, jaminan pasti ketersediaan vaksin di dunia yang bisa didapat Indonesia juga menjadi variabel yang belum bisa diprediksi.

Data dari Komite Penanganan COVID-19 dan Pemulihan Ekonomi Nasional (KPCPEN) menunjukkan, per 31 Mei 2021 total kedatangan vaksin hingga tahap ke-14 mencapai 75,9 juta dosis dalam bentuk jadi untuk mencakup 37.955.250 orang (dua dosis per orang).

Dari jumlah vaksin ini, sebanyak 3 juta dosis vaksin jadi produksi Sinovac, 6,41 juta dosis vaksin jadi produksi AstraZeneca, 1 juta dosis vaksin jadi produksi Sinopharm serta vaksin dalam bentuk bahan baku atau bulk sebanyak 81,5 juta dosis produksi Sinovac yang setelah diolah di Bio Farma akan menjadi 65.5 juta dosis vaksin jadi.

Baca juga: Epidemiolog nilai vaksinasi mandiri bantu capai kekebalan kelompok

Di sisi lain, tercapainya kekebalan kelompok juga bisa bergantung pada kenyataan seberapa besar cakupan vaksin yang akan berhasil dilakukan di tanah air.

Data dari Kementerian Kesehatan per 5 Juni 2021 pukul 12.00 WIB memperlihatkan, sekitar 9 per 100 penduduk sasaran yang sudah mendapatkan 1 dosis vaksin.

"Jadi, yang penting sekarang bukan memprediksi kapan herd immunity tercapai tetapi lebih baik terus meningkatkan cakupan dari waktu ke waktu," ujar Tjandra.

Herd immunity atau kekebalan kelompok bisa terbentuk bila sebanyak 70 persen populasi mendapatkan vaksin COVID-19. Tjandra yang pernah menjabat sebagai Direktur WHO Asia Tenggara 2018-2020 itu menekankan vaksin COVID-19 bermanfaat memberikan proteksi bagi orang-orang yang sudah divaksin, sehingga sebanyak mungkin orang perlu divaksin sesingkat mungkin.

Pemerintah menargetkan vaksinasi 1 juta dosis per hari melalui program Vaksinasi Nasional maupun vaksinasi Gotong Royong hingga terwujudnya herd immunity. Pemerintah optimistis 181,5 juta jiwa target vaksinasi terpenuhi dengan ketersediaan vaksin yang cukup.

Baca juga: 10,98 juta warga Indonesia dapatkan vaksin COVID-19 dosis lengkap

Baca juga: Pemerintah targetkan "herd immunity" tercapai pada triwulan I-2022
Pewarta : Lia Wanadriani Santosa
Editor: Suryanto
COPYRIGHT © ANTARA 2021