KPPPA-FOI ajak masyarakat merdekakan anak dari kelaparan

KPPPA-FOI ajak masyarakat merdekakan anak dari kelaparan

Kegiatan penukaran sampah anorganik dengan sayuran bagi ibu hamil dan balita. (ANTARA/HO)

Jakarta (ANTARA) - Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak bersama dengan FOodbank of Indonesia (FOI) mengajak masyarakat untuk ikut aksi memerdekakan balita dan anak Indonesia dari kelaparan melalui gerakan "Aksi 1000 Bunda untuk Indonesia".

"Melalui 'Aksi 1000 Bunda untuk Indonesia', kami mengajak para bunda bergerak bersama agar masyarakat tidak hanya paham arti penting pemenuhan gizi anak, tetapi juga bergotong-royong menangani permasalahan gizi anak sebagai tanggung jawab dan kewajiban bersama yang dimulai dari tingkat keluarga," kata Deputi Tumbuh Kembang Anak Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Lenny N Rosalin melalui siaran pers yang diterima di Jakarta, Selasa.

Lenny mengatakan anak-anak sebagai generasi penerus bangsa harus sehat, cerdas, kreatif, dan produktif. Bila anak terlahir sehat, tumbuh dengan baik, dan didukung pendidikan yang berkualitas; anak akan menjadi generasi penunjang kesuksesan pembangunan bangsa.

Sebaliknya, bila anak terlahir dan tumbuh dalam keadaan kurang gizi kronis, maka akan menjadi anak yang kerdil atau stunting. Dalam jangka panjang, anak dengan stunting berisiko mengalami berbagai penyakit seperti jantung koroner, hipertensi, dan oesteoporosis.

Baca juga: Presiden minta layanan bagi ibu hamil-balita dipastikan tetap jalan

Baca juga: Presiden minta penurunan kasus "stunting" difokuskan di 10 provinsi


"Stunting merupakan kondisi gagal tumbuh pada anak balita, sehingga anak menjadi terlalu pendek untuk usianya. Stunting juga disebabkan karena terjadinya kekurangan gizi kronis saat bayi dalam kandungan hingga usia dua tahun," tuturnya.

Dalam jangka pendek, stunting mengakibatkan hambatan tumbuh kembang anak, seperti penurunan fungsi kekebalan tubuh, gangguan metabolisme, perkembangan otak tidak maksimal, memengaruhi kemampuan mental anak, dan belajar tidak maksimal sehingga mengakibatkan prestasi belajar yang buruk.

Ketua Yayasan Lumbung Pangan Indonesia Wida Septarina mengatakan berdasarkan Indeks Kelaparan Global 2019, Indonesia masih menghadapi masalah kelaparan yang serius.

"Kelaparan tersebut terbagi menjadi dua, yaitu kelaparan karena kemiskinan yang menyebabkan sekitar 40 persen hingga 50 persen anak ke sekolah dengan perut kosong, dan kelaparan yang tersembunyi yaitu fenomena kekurangan vitamin dan mineral yang dapat berujung pada stunting," jelasnya.

Wida menambahkan kondisi tersebut diperparah dengan pandemi COVID-19 yang mengakibatkan peningkatan kelaparan pada balita di Indonesia. Kondisi kemiskinan dan daya beli pangan yang menurun mengakibatkan keterbatasan akses, ketersediaan, dan keterjangkauan bahan pangan sehat pada keluarga.

"Aksi 1000 Bunda untuk Indonesia" mengajak masyarakat bergerak memerangi kelaparan pada balita dengan membuka akses pangan melalui pembagian makanan, edukasi serta berdialog dengan para relawan di 45 titik wilayah Indonesia yang ditargetkan dapat membantu 50.000 balita di Indonesia.

Aksi akan dilaksanakan hingga 22 Desember 2020, ditutup tepat pada peringatan Hari Ibu. 

Baca juga: Pengasuhan anak kunci utama cegah kekerdilan

Baca juga: Yogyakarta buka Dapur Balita untuk bantu penuhi gizi anak saat pandemi
Pewarta : Dewanto Samodro
Editor: Zita Meirina
COPYRIGHT © ANTARA 2020