BRG: Pembangunan infrastruktur pembasahan gambut libatkan masyarakat

BRG: Pembangunan infrastruktur pembasahan gambut libatkan masyarakat

Ilustrasi - Infrastruktur Pembasahan Gambut berupa kanal di Riau (Antarafoto)

Jakarta (ANTARA) - Badan Restorasi Gambut menyebutkan bahwa pembangunan Infrastruktur Pembasahan Gambut (IPG) seperti sekat kanal dan sumur bor di Riau seluruhnya dikerjakan oleh Kelompok Masyarakat (Pokmas).

"Kami memilih cara ini untuk mendukung program padat karya, dan lebih penting lagi untuk menjadikan masyarakat merasa memiliki. Karena itu mereka mau ikut serta menjaganya," kata Kepala Kelompok Kerja Wilayah Sumatera pada Badan Restorasi Gambut Soesilo Indarto di Jakarta, Jumat.

Sampai 2019 telah dibangun 1.422 sekat kanal dan 1.125 sumur bor di Riau, tambahnya, pelaksanaan dilakukan oleh Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan sebagai pelaksana tugas pembantuan restorasi gambut.

Saat ini, BRG melalukan pengecekan ulang terhadap kondisi infrastruktur itu dengan menggunakan aplikasi Android. Aplikasi yang disebut SISFO itu memungkinkan letak IPG dengan koordinat yang akurat dapat diperoleh. Demikian pula kondisi terkininya.

"Terhadap IPG yang ada kerusakan, kami segera lakukan pemeliharaan. Untuk Riau, anggaran pemeliharaan adalah sekitar Rp400 juta. Kegiatan pemeliharaan ini juga melibatkan Pokmas," kata Soesilo melalui keterangan tertulis.

Sebelumnya Kelompok Masyarakat (Pokmas) membangun infrastruktur pembasahan gambut di Riau, mengantisipasi kebakaran di lahan gambut saat memasuki musim kemarau.

Selain itu,menurut seorang pendamping Pokmas di Riau Misngadi, guna mengantisipasi kebakaran lahan gambut saat musim kemarau maka kelompok masyarakat selalu melakukan patroli.

"Teman-teman pokmas melakukan patroli rutin, terutama pengecekan Infrastuktur Pembasahan Gambut (IPG). Untuk memastikan jika terjadi kebakaran IPG itu nanti berfungsi," katanya.

Ancaman kebakaran lahan gambut itu selalu ada, tambahnya, tetapi sejak adanya program restorasi gambut di Riau kebakaran dapat diminimalisasi.

"Salah satu contohnya kebakaran pada 2019. Meski terbilang parah, kebakaran lahan gambut yang terjadi di wilayah di mana terdapat Pokmas, kami kira tidak sampai 10 persen,” katanya.

Baca juga: Direktur Eksekutif Yayasan Madani minta pemerintah pertahankan BRG

Baca juga: BRG perkuat ekonomi melalui pengembangan industri desa gambut

Baca juga: BRG ingatkan ancaman karhutla di tengah pandemi COVID-19

Baca juga: Setelah tertunda, BRG akan lanjutkan pembangunan sekat kanal

 
Pewarta : Subagyo
Editor: Ahmad Buchori
COPYRIGHT © ANTARA 2020