Dampak "lockdown" Malaysia, permintaan elpiji di perbatasan meningkat

Dampak

Ilustrasi: Petugas melakukan pengisian ulang tabung gas di Stasiun Pengisian dan Pengangkutan Bulk Elpiji (SPPBE) Pertamina, Bandung, Jawa Barat. ANTARA FOTO/M Agung Rajasa/foc.

Putussibau, Kapuas Hulu (ANTARA) -
Saat ini permintaan elpiji non-subsidi di daerah perbatasan Indonesia - Malaysia, khususnya di Kecamatan Badau, wilayah Kapuas Hulu, Kalimantan Barat, mengalami peningkatan, setelah Pemerintah Malaysia melakukan penguncian atau lockdown negaranya pada masa pandemi COVID-19.
 
"Kurang lebih 1.000 tabung elpiji 5,5 kg sudah beredar di Badau, belum lagi tabung 12 kg dan kami juga sudah membuka tiga titik sub-agen elpiji yaitu di Badau, Empanang dan Puring Kencana," kata Direktur Utama PT Kapuas Khatulistiwa Abadi, H Hidayat, dihubungi ANTARA, di Putussibau, ibu kota Kabupaten Kapuas Hulu, Kalimantan Barat, Sabtu.
 
Ia mengatakan sebelumnya warga perbatasan tergantung pada produk elpiji Malaysia, namun kini warga perbatasan semakin banyak yang menggunakan elpiji Pertamina.

Baca juga: Pertamina pastikan pasokan elpiji dan BBM cukup jelang kenormalan baru

Baca juga: Pertamina lakukan antisipasi peningkatan permintaan elpiji-BBM
 
Menurut dia, rata-rata pendistribusian elpiji dalam satu bulan mencapai 500 tabung dan permintaannya kini meningkat dan terbantu dengan adanya sub-agen elpiji di perbatasan.
 
"Alhamdulillah kita bisa membantu warga perbatasan, harapan kita warga perbatasan tetap mencintai produk dalam negeri," ucap Hidayat.
 
Sementara itu pemilik Sub Agen Surya Group Badau Suryadi mengatakan permintaan elpiji 5,5 kg atau Bright Gas di Badau memang meningkat, akibat lockdown yang di berlakukan Malaysia.
 
"Alhamdulillah masyarakat perbatasan sudah bisa menggunakan Bright gas dan gas 12 kg dari Pertamina dalam negeri," kata Suryadi.

Baca juga: Jamin persediaan gas subsidi aman, Pemkab pantau stok di perbatasan
 
Pewarta : Teofilusianto Timotius
Editor: Risbiani Fardaniah
COPYRIGHT © ANTARA 2020