Patuhi protokol, ODHA minum obat ARV tak jamin terhindar dari COVID-19

Patuhi protokol, ODHA minum obat ARV tak jamin terhindar dari COVID-19

Direktur Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular Langsung Kemenkes dr Wiendra Waworuntu, M.Kes. (FOTO ANTARA/HO-tangkapan layar Youtube BNPB)

Jakarta (ANTARA) - Direktur Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular Langsung Kementerian Kesehatan (Kemenkes) dr Wiendra Waworuntu, M.Kes mengemukakan bahwa meskipun orang dengan HIV/AIDS (ODHA) meminum obat antiretroviral (ARV) bukan berarti tidak akan terinfeksi COVID-19 sehingga harus tetap mematuhi protokol kesehatan.

"Tidak usah berpikir saya minum ARV saya tidak akan terkena COVID-19. Buktinya, COVID-19 tetap bisa menyerang siapa saja," kata Wiendra dalam siaran virtual tentang "Pelayanan Kesehatan bagi ODHA di Masa Pandemi COVID-19" di Jakarta, Kamis.

Oleh karena itu, ia menegaskan bahwa protokol kesehatan tetap harus dijalankan seperti rajin mencuci tangan, memakai masker jika ke luar rumah, menjaga jarak fisik, serta menjaga pola hidup bersih dan sehat.

Menurut dia seluruh masyarakat harus mematuhi protokol kesehatan untuk mencegah tertular COVID-19.

"Ketika mengunjungi rumah sakit untuk mendapatkan obat, ODHA juga harus tetap disiplin melakukan protokol kesehatan." kata Wiendra Waworuntu.

Sementara itu Timotius Hadi dari Jaringan Indonesia Positif mengajak seluruh ODHA untuk tetap waspada di tengah pandemi COVID-19 dengan menjalankan protokol kesehatan karena mengkonsumsi ARV tidak berarti bebas dari virus corona jenis baru penyebab COVID-19.

"Walaupun teman-teman minum ARV bukan berarti bebas dari COVID-19, maka tetap rajin mencuci tangan, memakai masker, jaga jarak, dan jangan lupa teman-teman bahagia," ujarnya.

Ia mengatakan kesehatan psikis juga harus diperhatikan karena jika merasa bahagia dan tidak stres dapat menjaga daya tahan tubuh

"Jangan lupa bahagia karena itu kunci yang penting buat teman-teman. Dengan teman-teman bisa menjaga psikis yang sehat, antibodi teman-teman bisa meningkat," katanya.

Dia juga berharap masyarakat tidak memiliki stigma terhadap ODHA. Seluruh elemen masyarakat seharusnya menganggap HIV sebagai masalah kesehatan bersama.

"Jangan melihat lagi bagaimana orang itu terinfeksi tapi bagaimana kita melihat dia seorang 'person' (pribadi) dan dia bisa mempunyai hidup yang sama, masa depan sama dan hak yang sama untuk hidup," katanya.

Karena itu, kerja sama seluruh masyarakat dibutuhkan dalam menanggulangi baik COVID-19 maupun HIV/AIDS, demikian Timotius Hadi

Baca juga: Gugus Tugas: Ada pasien HIV/AIDS di Papua yang terjangkit COVID-19

Baca juga: Indonesia AIDS Coalition: 140 ribu ODHA terancam tak dapat ARV

Baca juga: Tiga pusat rehabilitasi ODHA sudah dimiliki Kemensos

Baca juga: Pasien "suspect" Covid-19 di RSUP Kepri menderita HIV
Pewarta : Martha Herlinawati S
Editor: Andi Jauhary
COPYRIGHT © ANTARA 2020