Pelajar asing khawatir akan dikirim pulang terkait kebijakan visa AS

Pelajar asing khawatir akan dikirim pulang terkait kebijakan visa AS

Lulusan Universitas San Macros merayakan kelulusan dengan parade mobil di sekitar wilayah kampus ditengah wabah penyakit virus corona (COVID-19) di San Macros, California, Amerika Serikat, Jumat (15/5/2020). ANTARA FOTO/REUTERS/Mike Blake/wsj/djo

Ohio (ANTARA) - Ketika telepon berdering pada Selasa pagi, Raul Romero baru saja tertidur.

Pelajar berusia 21 tahun asal Venezuela, yang tengah menuntut ilmu dengan beasiswa di Kenyon College negara bagian Ohio, dan telah merenungkan pilihannya selama berjam-jam usai Otoritas Imigrasi dan Bea Cukai (ICE) Amerika Serikat mengumumkan pada Senin bahwa para pelajar asing yang melakukan studi secara virtual sepenuhnya pada semester musim gugur nanti harus pindah ke kampus dengan kelas-kelas tatap muka, atau keluar meninggalkan AS.

Seorang pekerja Kenyon College menghubungi Romero untuk mengatakan bahwa ia tidak akan terdampak langsung, namun pekerja itu mewanti-wanti bahwa penyebaran lokal COVID-19 dapat memaksa kampusnya untuk menahan kelas-kelas tatap muka. Apabila itu terjadi, maka dia kemungkinan harus kembali ke negara asalnya.

Romero merupakan salah satu dari ratusan ribu pelajar asing di AS dengan visa F-1 dan M-1 yang menghadapi kemungkinan harus meninggalkan negara tersebut di tengah pandemi, apabila kampus mereka melakukan kegiatan belajar mengajar secara daring sepenuhnya.

Baca juga: Suka duka mengikuti perkuliahan daring di tengah pandemi
Baca juga: Tantangan kuliah daring bagi dosen dan mahasiswa


Untuk sebagian pelajar, melakukan studi jarak jauh dapat berarti mengikuti kelas pada tengah malam, berkutat dengan akses yang hilang timbul atau tidak ada sama sekali, kehilangan kehilangan dana yang bergantung pada pengajaran, atau harus berhenti berpartisipasi dalam penelitian.

Beberapa dari mereka mempertimbangkan untuk mengambil cuti atau meninggalkan program sepenuhnya.

Reuters berbicara dengan belasan pelajar yang menggambarkan perasaan hancur dan bingung akibat pengumuman administrasi Trump.

Di Venezuela, yang dilanda krisis ekonomi yang mendalam di tengah perselisihan politik, Romero mengatakan ibu dan saudara lelakinya hidup dari tabungan, dan terkadang berjuang untuk mencari makanan dan tidak memiliki akses internet yang dapat diandalkan di rumah.

"Memikirkan untuk kembali ke konflik seperti itu, sambil harus melanjutkan kelas saya di situasi sama sekali tidak setara dengan teman sekelas saya," katanya. "Saya rasa itu tidak mungkin."

Kemungkinan itu pun dapat terjadi apabila dia dapat kembali ke negara asalnya, karena saat ini tak ada penerbangan yang beroperasi antara AS dan Venezuela.

BEKERJA JARAK JAUH TAK DAPAT DILAKUKAN

Di sekolah-sekolah yang telah mengumumkan keputusan untuk menjalankan kelas secara daring sepenuhnya, para siswa bergulat dengan implikasi pengumuman tersebut untuk kehidupan pribadi dan profesional mereka. Universitas-universitas yang terkejut pun berusaha untuk membantu mereka mengatasi pergolakan.

Lewis Picard (24) seorang mahasiswa doktoral Australia tahun kedua jurusan fisika eksperimental di Universitas Harvard, terus berbicara dengan rekannya terkait keputusan tersebut. Mereka menggunakan visa F-1 di berbagai kampus.

Harvard mengatakan pada hari Senin bahwa mereka berencana untuk mengadakan kelas-kelas online tahun depan. Setelah pengumuman ICE, pimpinan universitas Larry Bacow mengatakan Harvard "sangat prihatin" sehingga memberikan "beberapa pilihan" bagi siswa internasional.

"Keharusan untuk pergi benar-benar akan menjadi hambatan dalam penelitian saya," kata Picard. "Pada dasarnya, tidak mungkin pekerjaan yang saya lakukan dapat dilakukan dari jarak jauh. (Pekerjaan) Kami telah sangat terjeda dengan adanya pandemi, dan kami baru bisa mulai kembali ke lab."

Hal itu juga dapat berarti dia akan terpisah dengan pasangannya. "Rencana skenario terburuk adalah kita berdua harus kembali ke negara asal masing-masing," katanya.

'TIDAK DAPAT PINDAH DI BULAN JULI'

Aparna Gopalan mahasiswi asal India berusia 25 tahun tengah menempuh studi doktorat antropologi tahun keempat di Harvard. Dia mengatakan saran ICE untuk para siswa pindah ke universitas yang melakukan aktivitas belajar tatap muka tidak realistis, karena hanya beberapa minggu sebelum kelas dimulai.

"Itu menunjukkan  kurangnya pemahaman sepenuhnya tentang bagaimana akademia bekerja," katanya. "Anda tidak dapat pindah di bulan Juli. Itu tidak dapat terjadi."

Pelajar lain mempertimbangkan untuk meninggalkan program mereka sepenuhnya jika mereka tidak dapat belajar di Amerika Serikat, dan mengambil uang kuliah mereka. Siswa internasional seringkali membayar biaya secara penuh, membantu universitas untuk mendanai beasiswa, dan menyuntikkan hampir 45 miliar dolar ke dalam ekonomi AS pada tahun 2018.

"Tidak masuk akal bagi saya untuk membayar pendidikan Amerika, jika Anda tidak benar-benar menerima pendidikan Amerika," kata Olufemi Olurin (25) dari Bahama, yang mendapatkan gelar MBA di Universitas Eastern Kentucky dan ingin mengejar karir dalam manajemen kesehatan.

"Agak memilukan," katanya. "Saya membangun kehidupan di sini. Sebagai seorang imigran, meskipun anda taat hukum, anda masih selalu menunggu untuk situasi yang bisa tiba-tiba berubah."

Sementara itu, Benjamin Bing (22) dari China, yang berencana untuk menuntut ilmu komputer di Carnegie Mellon pada musim gugur, mengatakan ia tidak lagi merasa diterima di Amerika Serikat. Dia dan teman-temannya sedang menjajaki kemungkinan menyelesaikan studi mereka di Eropa.

"Saya merasa (kebijakan) seperti mengusir semua orang (dari Amerika Serikat)," katanya. "Kami sebenarnya membayar uang sekolah untuk belajar di sini dan kami tidak melakukan kesalahan apa pun."

Sumber: Reuters

Baca juga: 9000 pelajar Indonesia kuliah di Amerika Serikat
Baca juga: Presiden Jokowi: Kuliah daring jadi "next normal"

Pewarta : Aria Cindyara
Editor: Mulyo Sunyoto
COPYRIGHT © ANTARA 2020