Pengadilan Eropa batalkan vonis Prancis terhadap aktivis boikot Israel

Pengadilan Eropa batalkan vonis Prancis terhadap aktivis boikot Israel

Utusan Khusus HAM Uni Eropa, Jan Figel menyampaikan paparan dalam peringatan Hari Toleransi Internasional di Jakarta, Sabtu (16/11/2019). ANTARA FOTO/Aditya Pradana Putra/ama. (ANTARA/ADITYA PRADANA PUTRA)

Paris (ANTARA) - Pengadilan Hak Asasi Manusia Eropa (EHCR) pada Kamis memutuskan vonis pidana pengadilan Prancis terhadap beberapa aktivis, yang berkampanye memboikot produk Israel, tidak berdasar dan melanggar hak mereka untuk bebas berekspresi.

Vonis Mahkamah Agung Prancis pada 2015 menyatakan para aktivis yang berkampanye boikot produk impor asal Israel bersalah karena ajakan itu memicu rasisme dan anti-Semit.

Setidaknya 12 aktivis yang terlibat gerakan "Boikot, Tarik Investasi dan Sanksi" (BDS), dinyatakan bersalah karena menyebarkan brosur berisi ajakan menolak produk Israel di beberapa supermarket wilayah timur Prancis.

Mereka juga dinyatakan melanggar hukum karena mengenakan kaos dengan tulisan boikot produk Israel pada 2009 dan 2010.

Baca juga: Stephen Hawking boikot Israel
Baca juga: Warga Palestina di Tepi Barat boikot produk Israel


Tim penasihat hukum aktivis itu mengatakan ajakan boikot merupakan wujud dari penerapan prinsip mendasar HAM, yaitu kebebasan berekspresi.

Pengadilan HAM Eropa mengatakan sedikit klausul dalam konvensi di Eropa yang membatasi pidato politik. Meskipun isinya memicu polemik, pidato politik diperbolehkan asal tidak memantik kekerasan, kebencian, dan intoleransi.

"Pengadilan memutuskan vonis yang diberikan ke terdakwa kurang bukti yang relevan dan cukup," demikian vonis pengadilan HAM.

Prancis pun diperintahkan membayar ganti rugi senilai 27.380 euro (sekitar Rp441 juta) ke masing-masing aktivis.

Israel mengatakan BDS didanai oleh kaum intelektual dan penulis blog yang mendukung Palestina. Gerakan itu, menurut Israel, didorong motif anti-Semit, dan merongrong legitimasi Israel.

Putusan pengadilan HAM itu dibacakan saat Israel berencana menduduki paksa wilayah Tepi Barat. Rencana itu dikritik banyak petinggi negara di Eropa. Beberapa negara, termasuk Prancis, mengatakan negara lain dapat berbuat yang sama terhadap Israel jika negara itu bersikukuh menduduki paksa Tepi Barat.

"Putusan ini merupakan wujud kemenangan kebebasan berekspresi dan gugatan sipil," kata Bertrand Heilbronn, Presiden Asosiasi Solidaritas Prancis Palestina. "(Kami) akan terus melanjutkannya (kampanye BDS) selama Israel tidak mematuhi hukum internasional dan menghormati HAM," ujar dia.

Sumber: Reuters

Baca juga: MUI serukan boikot produk AS-Israel
Baca juga: KTT OKI - Kemlu: boikot produk hentikan insentif pemukim ilegal Israel
Pewarta : Genta Tenri Mawangi
Editor: Mulyo Sunyoto
COPYRIGHT © ANTARA 2020