Kerajinan miniatur di Lebak mampu bantu siswa keluarga miskin

Kerajinan miniatur di Lebak mampu bantu siswa keluarga miskin

H Aliyudin, seorang pemilik kerajinan miniatur di Kampung Sentral Rangkasbitung Kabupaten Lebak, Kamis (4/6/2020).

Lebak (ANTARA) - Kerajinan miniatur di Kabupaten Lebak, Banten mampu membantu keluarga miskin untuk melanjutkan pendidikan pada jenjang Sekolah Menengah Ketrampilan (SMK).

"Kami memberdayakan siswa keluarga miskin itu agar mereka tidak putus sekolah," kata H Aliyudin, seorang pemilik kerajinan miniatur di Kampung Sentral Rangkasbitung Kabupaten Lebak, Kamis.

Produk kerajinan miniatur tersebut dengan memanfaatkan bambu yang melimpah di Kabupaten Lebak sehingga tidak mengalami kesulitan untuk mendatangkan bahan baku itu.

Sebab, bahan baku bambu itu bisa menghasilkan nilai seni dengan memiliki ekonomi cukup tinggi dengan memproduksi kerajinan miniatur Leuit Baduy juga berbagai jenis kendaraan, perabotan rumah tangga dan lainnya.

Baca juga: Siswa di Tulungagung bayar SPP gunakan kerajinan "besek"

Baca juga: Seniman Tulungagung manfaatkan limbah kaleng untuk mebeler


"Semua produk kerajinan miniatur itu hasil karya siswa dari keluarga miskin agar mereka bisa melanjutkan pendidikan pada jenjang SMK itu," katanya menjelaskan.

Menurut dia, produk kerajinan miniatur tersebut dipasarkan oleh siswa sendiri melalui pemanfaatan jaringan teknologi internet dengan sistem daring.

Selain itu juga relasi atau kenalan untuk dipasarkan di tempat-tempat wisata agar wisatawan yang membeli miniatur tersebut untuk dijadikan kenang-kenangan.

"Kami mengembangkan usaha kerajinan ini selama setahun terakhir masih bertahan, meski terjadi pandemi COVID-19," katanya menjelaskan.

Menurut dia, kerajinan miniatur dikerjakan dengan melibatkan belasan siswa yang ingin melanjutkan pendidikan di SMK di Desa Pair Tanjung Rangkasbitung.

Dimana mereka siswa dari keluarga miskin sangat terbantu dengan mengembangkan kerajinan miniatur.

Penghasilan produk kerajinan miniatur bisa meraup keuntungan sekitar Rp500 ribu sampai Rp700 ribu/bulan.

Mereka para siswa itu, kata dia, dari hasil keuntungan kerajinan miniatur bisa membiayai pendidikan juga membeli buku, seragam, sepatu dan uang jajan serta transportasi.

"Kami berharap pemerintah daerah dapat membantu kerajinan itu khususnya pemasaran dan pemodalan," kata Aliyudin.

Ujang, seorang siswa SMK Rangkasbitung mengaku bahwa dirinya merasa terbantu dengan mengembangkan usaha kerajinan miniatur yang dikelola oleh H Aliyudin sehingga bisa melanjutkan pendidkan.

Saat ini, keluarga ekonominya tidak mampu membiayai pendidikan karena penghasilan orang tua sebagai buruh serabutan.

"Beruntung, kami terbantu melalui kerajinan miniatur bisa melanjutkan pendidikan itu," katanya.

Sementara itu, Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan Kabupaten Lebak Dedi Rahmat mengapresiasi kerajinan miniatur bambu itu dapat membantu siswa dari keluarga miskin bisa melanjutkan pendidikan.

Karena itu, pemerintah daerah akan memberikan pembinaan dan bantuan kepada perajin miniatur bambu tersebut pada anggaran 2021.

"Kami tahun ini tidak melaksanakan kegiatan pembinaan karena anggaranya digunakan untuk penanganan virus Corona baru atau COVID-19," katanya.*

Baca juga: Baznas Pusat berdayakan warga pedalaman Lebak melalui kerajinan

Baca juga: Masker kulit dari Garut mulai diminati pasar sejak darurat COVID-19
Pewarta : Mansyur suryana
Editor: Erafzon Saptiyulda AS
COPYRIGHT © ANTARA 2020