Walhi: Hidup di normal baru pascapandemi COVID-19 tidak bisa egois

Walhi: Hidup di normal baru pascapandemi COVID-19 tidak bisa egois

Direktur Eksekutif WALHI Nasional Nur Hidayati ketika ditemui di kantor eksekutif WALHI, Jakarta Selatan, Jumat (18/10/2019). ANTARA/Prisca Triferna/aa.

Jakarta (ANTARA) - Direktur Eksekutif Nasional Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi) Nur Hidayati mengatakan pandemi COVID-19 semakin memunculkan solidaritas besar sehingga di masa normal baru nanti orang tidak bisa lagi hidup secara individualistis dan egois.

“COVID-19 menunjukkan bahwa kita bangsa yang rentan. Kita tidak tahu sampai kapan dapat bertahan, tidak tahu kecukupan bahan dasar kita sampai sejauh apa, dan harusnya itu bisa diubah,” kata Nur Hidayati dalam diskusi Membangun Kembali Indonesia Pascapandemi di Jakarta, Selasa.

Baca juga: Emil Salim: Penyediaan pangan bernutrisi penting untuk imunitas

Meski demikian ia mengatakan di masa pandemi justru terlihat solidaritas rakyat yang sangat besar yang sebenarnya juga membuat pemerintah kaget.

“Sebenarnya itu sudah lama ada, karena bencana hidrologis setiap tahun juga sudah jutaan dari mereka mengungsi”.

Baca juga: Kehidupan normal baru, publik butuh aplikasi pengawasan dan pendidikan

Maka, menurut dia, pemerintah perlu melihat solidaritas yang kembali muncul tersebut sebagai modal sosial yang harus dikembalikan semangatnya dan didukung sepenuhnya. Sehingga masyarakat tidak bisa lagi hidup individualistis yang disebabkan sistem ekonomi yang dianut saat ini.

Pada masa normal baru nanti, konsep Tujuan Pembangunan Berkelanjutan di Indonesia masih memakai tolok ukur pertumbuhan ekonomi, dan hal itu yang perlu diubah, ujar Nur Hayati.

Baca juga: Yurianto: Normal baru adalah produktif tapi jalani protokol kesehatan

“Tapi memang di tingkat masyarakat sudah melakukan 'sustainable development' yang harusnya di tataran negara, mereka tukar hasil panen yang bersifat solidaritas,” ujar dia.

Nur Hidayati mengatakan apa yang ingin dikembangkan adalah bibit solidaritas tersebut ada saat menghadapi krisis, dan tidak peduli lagi dengan apa yang dilakukan pemerintah.

“Saya pikir kita harus juga punya imajinasi leluasa, membayangkan masa depan kita ini seperti apa.

Jika memang tidak kompatibel, menurut dia, maka negara harus mencari titik temunya melalui dialog dan delibratif.

Baca juga: Menristek dorong riset kehidupan normal baru

 

Pewarta : Virna P Setyorini
Editor: Agus Salim
COPYRIGHT © ANTARA 2020