LIPI: Model bisnis berubah dalam hidup normal baru di tengah COVID-19

LIPI: Model bisnis berubah dalam hidup normal baru di tengah COVID-19

Kepala Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Laksana Tri Handoko pada Forum Grup Diskusi Prioritas Riset Nasional Kesehatan Obat 2020-2024 di Cibinong, Jawa Barat, Kamis (12/3/2020). ANTARA/Virna P Setyorini/pri.

Jakarta (ANTARA) - Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) mengatakan akan ada perubahan dan model bisnis baru dalam kehidupan normal baru (new normal) sehingga masyarakat tetap bisa menjalankan usahanya karena harus mulai bisa hidup bersama dengan virus SARS-CoV-2 penyebab COVID-19.

"Kami juga memikirkan bagaimana kita bisa mendukung perubahan dan model bisnis," kata Kepala LIPI Laksana Tri Handoko dalam webinar Teknologi dan Inovasi Indonesia Hadapi Covid 19, Jakarta, Selasa.

Usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM) menjadi salah satu sektor terdampak COVID-19. Untuk menunjang usaha ini, maka model bisnis UMKM harus memanfaatkan berbagai teknologi tepat guna. Teknologi tepat guna itu bisa yang sudah ada dan yang dikembangkan lebih lanjut.

Teknologi tepat guna itu dapat berupa pengemasan makanan olahan lokal dan diversifikasi produk yang ada.

Baca juga: IPC siapkan skenario "the new normal" di pelabuhan

Baca juga: Bentuk satgas, PTPN III siapkan skenario "The New Normal"


Pada implementasi pembatasan sosial berskala besar (PSBB), pelanggan tidak bisa makan di warung makan atau restoran. Pelaku UMKM yang tadinya hanya bisa menjual makanan di warung makan atau restoran bisa beralih untuk mengemas produk makanan yang dijual dalam kaleng sehingga bisa dijual ke berbagai wilayah di Indonesia.

Dia mengatakan karena COVID-19 warung makan yang terkenal saja terpaksa tutup, kalaupun buka mungkin tidak banyak datang.

Pengemasan makanan olahan dan diversifikasi produk itu bisa membuka peluang pasar dan berpotensi meningkatkan omset pelaku UMKM.

Contohnya, empal gentong yang enak di Cirebon bisa dikalengkan sehingga membuka pasar untuk bisa dinikmati berbagai masyarakat di berbagai pelosok Tanah Air.

Untuk diversifikasi produk, warung yang tadinya hanya menjual nasi jagung bisa mulai membuat mi non terigu yang berbahan jagung atau singkong. Kemudian, produk dikemas dengan baik dan dikirim ke berbagai daerah dan diperjualbelikan dalam jaringan.*

Baca juga: KemenBUMN: Kami bukan nyelonong masuk, tunggu arahan Gugus Tugas

Baca juga: Membangun hidup bersama COVID-19
Pewarta : Martha Herlinawati S
Editor: Erafzon Saptiyulda AS
COPYRIGHT © ANTARA 2020