Kemendikbud: Kecintaan pada lingkungan perlu kerja sama semua pihak

Kemendikbud: Kecintaan pada lingkungan perlu kerja sama semua pihak

Tangkapan layar dari Kepala Pusat Penguatan Karakter Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) Hendarman dalam diskusi online yang diadakan BRG di Jakarta, Senin (4/5/2020). (ANTARA/Prisca Triferna)

Jakarta (ANTARA) - Pembangunan karakter untuk cinta lingkungan tidak akan bisa terwujud hanya dengan pengajaran dari sekolah tapi juga perlu kerja sama dengan orang tua, kata Kepala Pusat Penguatan Karakter Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) Hendarman.

"Keberhasilan dari karakter cinta lingkungan betul-betul tergantung dari kreativitas dan sinergi ekosistem pendidikan," kata Hendarman dalam diskusi via online tentang cinta lingkungan yang diadakan Badan Restorasi Gambut (BRG) yang disimak di Jakarta pada Senin.

Sekolah dan segala aparaturnya tidak mungkin bisa menjadi satu-satunya yang dibebankan untuk penguatan karakter tersebut, tapi diperlukan peran orang tua, tegas dia.

Dia mengambil contoh seperti situasi belajar mengajar di tengah pandemi COVID-19 seperti yang terjadi saat ini, di mana sekolah dan orang tua harus melakukan sinergi untuk menciptakan situasi kondusif bagi anak untuk belajar.

Baca juga: Pelukis asal Bali pameran tunggal cinta lingkungan di Kota Magelang

Baca juga: Cinta lingkungan sekaligus menapaki warisan sejarah di Ratu Boko


Selain itu, bagi kaum muda perlu penyadaran akan pentingnya lingkungan untuk mulai membangun karakter cinta lingkungan, kata dia.

Pembelajaran untuk menguatkan kecintaan akan lingkungan harus dilakukan secara nyata dan tidak hanya lewat pembelajaran kurikulum semata atau lewat kampanye virtual, kata praktisi pendidikan lingkungan Aulia Wijiasih. Tidak ada yang salah dengan kampanye virtual, kata dia, namun untuk pembangunan karakter cinta lingkungan perlu pengalaman langsung dan pengetahuan akan lingkungan sekitar.

"Memang kampanye virtual oke, tapi itu hanya bisa menyentuh orang-orang yang ada di dunia maya, sedangkan untuk pendidikan tidak bisa hanya dengan kampanye," kata anggota Tim Pembina Adiwiyata Nasional itu yang juga menjadi pembicara dalam diskusi BRG.

Siswa harus mengenal lingkungan yang ada di sekitarnya, seperti dalam kasus untuk siswa yang tinggal di dekat lahan gambut tentu perlu mengenal secara mendalam tentang gambut. Karena itu, kata Aulia, pendidikan lingkungan seharusnya berbasis kepada lingkungan sekitar dan tidak hanya berbasis buku paket.*

Baca juga: KLHK ajak milenial cinta alam lewat festival cinta lingkungan

Baca juga: Bupati Jayapura apresiasi pelaksanaan Festival Cycloop 2019

 
Pewarta : Prisca Triferna Violleta
Editor: Erafzon Saptiyulda AS
COPYRIGHT © ANTARA 2020