KPAI: Adaptasi dan fleksibilitas penting dalam pembelajaran di rumah

KPAI: Adaptasi dan fleksibilitas penting dalam pembelajaran di rumah

Seorang anak didampingi ibunya belajar dengan melihat tayangan siaran TVRI di rumah mereka di Deli Serdang, Sumatera Utara, Senin (13/4/2020). ANTARA FOTO/Irsan Mulyadi/hp.

Jakarta (ANTARA) - Wakil Ketua Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) Rita Pranawati mengemukakan pentingnya adaptasi dan fleksibilitas dalam pelaksanaan kegiatan pembelajaran anak di rumah di tengah banyaknya keterbatasan akibat pandemi COVID-19.

Dalam diskusi daring dalam rangkaian peringatan Hari Pendidikan Nasional, Sabtu, dia menjelaskan bahwa pelaksanaan proses pendidikan jarak jauh seperti sekarang dipengaruhi oleh kemampuan adaptasi guru, ketersediaan sarana pendukung, dan kapasitas pengasuhan masing-masing keluarga.

Kalau pada hari biasa proses belajar anak berada dalam kendali guru di kelas dan mengacu pada standar tertentu, ia mengatakan, dalam kegiatan pembelajaran jarak jauh orang tua siswa yang memiliki latar belakang dan kapasitas berbeda lebih berperan dalam mendampingi langsung kegiatan belajar anak.

Dia juga mengutip hasil survei yang dilakukan KPAI pada 1.700 siswa dan 550 guru yang menunjukkan bahwa keragaman kondisi orang tua murid menjadi salah satu kendala dalam pelaksanaan kegiatan pembelajaran dari jarak jauh.

"Media yang dipakai siswa itu terbatas masih pakai ponsel atau belum pakai lainnya, ada kendala pembelajaran misalnya keragaman masyarakat kita seperti ekonomi, sosio kultur, latar belakang orang tua murid," kata dia.

Dari sisi fasilitas, kata dia, beberapa guru tidak siap dengan model pendidikan jarak jauh dan sebagian dari mereka belum dapat menyesuaikan diri dengan proses pendidikan menggunakan teknologi baru.

Model pendidikan jarak jauh, ia melanjutkan, juga tidak selalu menyenangkan bagi anak dan kadang menimbulkan kejenuhan pada anak. Padahal proses belajar yang menyenangkan sangat mempengaruhi hasil pembelajaran, termasuk kemampuan siswa menyerap materi pelajaran.

Rita mengatakan bahwa menurut hasil survei 76,7 persen siswa tidak senang dengan kegiatan belajar di rumah yang berlangsung sekarang, terlebih dalam kegiatan belajar itu mereka kebanyakan harus mengejakan tugas saja, jarang melakukan kegiatan belajar tidak interaktif.

"Ini juga terkonfirmasi pada guru. Karena COVID-19 ini tentu kurikulum tidak harus sama persis sehingga diperlukan kreativitas guru. Guru lebih banyak mengejar standar baku kurikulum yang harus selesai padahal seharusnya adaptif dan fleksibel," katanya.

Baca juga:
Mendikbud: Pendidikan bukan sesuatu yang dilakukan di sekolah saja
Kemendikbud: Kolaborasi kunci kesuksesan pembelajaran dari rumah
Pewarta : Anom Prihantoro
Editor: Maryati
COPYRIGHT © ANTARA 2020