Mentan dan Gubernur Sulut tanam kedelai kurangi ketergantungan impor

Mentan dan Gubernur Sulut tanam kedelai kurangi ketergantungan impor

Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo bersama Gubernur Sulawesi Utara, Olly Dondokambey melakukan tanam kedelai di Desa Tontalete,Minahasa Utara, Sulawesi Utara, Selasa. (Kementerian Pertanian)

Jakarta (ANTARA) - Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo bersama Gubernur Sulawesi Utara, Olly Dondokambey melakukan tanam kedelai dalam rangka menggenjot produksi pangan di Provinsi Sulawesi Utara (Sulut).

Dalam kegiatan yang dilakukan di Desa Tontalete,Minahasa Utara, Sulawesi Utara, Selasa tersebut, Mentan Syahrul menjelaskan pengembangan kedelai di Provinsi Sulut dilakukan tahun 2020 hingga 2021 guna menekan ketergantungan pada impor.

"Ratusan ribu hektar tanaman kedelai akan kita coba bersama pak Gubernur serta bersama para pengusaha kita untuk mendorong Sulawesi Utara ini bisa berproduksi lebih banyak lagi. Kita tidak boleh tergantung pada impor tentu saja," kata Syahrul melalui keterangan yang diterima di Jakarta, Selasa.

Syahrul menuturkan sesuai arahan Presiden Joko Widodo, Kementerian Pertanian (Kementan) terus memperkuat sektor pertanian. Komoditas kedelai pun menjadi salah satu komoditas pangan yang terus digenjot produksinya, selain padi dan jagung.

Dalam kesempatan yang sama, Gubernur Sulawesi Utara Olly Dondokambey mengapresiasi kunjungan kerja Menteri Pertanian di Provinsi Sulut guna memajukan pertanian dan para petani di tengah pandemi corona. Menurut dia, pangan harus menjadi prioritas yang harus dipersiapkan pada kondisi pandemi tersebut.

Olly menerangkan bahwa Sulut memiliki tanah yang subur dengan meningkatkan pengembangan 48.000 hektare tanaman kedelai di tahun 2020 sampai 2021. Ia juga mengatakan bahwa saat ini lahan di Sulut selalu ditanami petani sehingga membutuhkan bantuan dari Kementan.

"Mudah mudahan kita dapat bantuan bibit yang lebih banyak seperti bantuan bibit jagung serta bantuan benih padi karena saat ini di Sulawesi Utara lahan yang menganggur sekarang sudah tidak ada," kata Olly.

Olly menambahkan dalam program pengembangan kedelai, Sulut menargetkan 1 hektare dengan produktivitas 2,5 ton sehingga dengan luas 50 ha, dapat menghasilkan 125 ton.

Direktur Aneka Kacang dan Umbi Lainnya Kementan, Amirudin Pohan, menambahkan dalam mendukung pengembangan tanaman pangan khususnya pangan selain padi dan jagung, juga dialokasikan kedelai seluas 120.000 ha di antaranya untuk Provinsi Sulut 9.000 ha.

Untuk Provinsi Sulut juga akan dikembangkan kacang tanah seluas 50 ha, kacang hijau seluas 500 ha dan ubi kayu seluas 350 ha.

"Guna meningkatkan provitas kedelai selama ini 1,4 ton per hektar menjadi 1,5 sampai 2 ton per hektar, paket bantuan dilengkapi dengan rizobium, pupuk hayati cair dan herbisida sesuai anjuran teknologi, termasuk benih biosoy dengan potensi hasil 2,4 ton per hektar," kata Amiruddin.

Amiruddin menyebutkan petani di Provinsi Sulut lebih berminat pada kedelai lokal, yakni varietas onjosmoro dan wilis karena ukuran biji lebih kecil dibanding yang lain.

Baca juga: Balitbangtan Kementan perbanyak benih kedelai biosoy di lima provinsi
Baca juga: Mentan : produksi kedelai terendah pada Oktober 2019


 
Pewarta : Mentari Dwi Gayati
Editor: Ahmad Wijaya
COPYRIGHT © ANTARA 2020