Jaktim beri pemahaman penggunaan sekolah untuk isolasi COVID-19

Jaktim beri pemahaman penggunaan sekolah untuk isolasi COVID-19

Petugas PMI Jakarta menyemprot disinfektan ke bus sekolah yang terparkir di kawasan Hek TMII, Jakarta Timur, Minggu (22/3/2020). Puluhan bus akan dimanfaatkan sebagai armada transportasi tenaga medis COVID-19. (ANTARA/HO-PMI Jakarta)

Jakarta (ANTARA) - Suku Dinas Pendidikan Wilayah 1 Jakarta Timur mengintensifkan komunikasi dengan orang tua siswa untuk memberi pemahaman rencana penggunaan gedung sekolah sebagai tempat isolasi kasus COVID-19.

Kepala Sudin Pendidikan Wilayah 1 Jaktim Ade Narun saat dihubungi melalui telepon genggam, Selasa, mengemukakan, upaya itu guna menyikapi penolakan dari sebagian orang tua siswa dan lingkungan sekitar atas rencana tersebut.

"Resistensi masyarakat, khususnya dari orang tua siswa dan lingkungan juga banyak yang keberatan. Kalau anak kita sekolah di situ juga keberatan, tapi itu jadi tugas kita berikan penjelasan," katanya.

Pemanfaatan gedung sekolah sebagai tempat isolasi bagi pasien dalam pengawasan (PDP), orang dalam pemantauan (ODP) hingga pasien positif COVID-19, merujuk pada surat edaran Dinas Pendidikan Nomor 4434/-1.1772.1 tentang Tindak Lanjut Instruksi Sekretaris Dinas Pendidikan DKI Nomor 29 Tahun 2020 yang ditandatangani Kadisdik DKI Nahdiana pada Senin (20/4).

Surat itu berisi arahan terkait penyediaan akomodasi dan fasilitas pendukung bagi tenaga kesehatan yang terlibat penanganan virus corona (COVID-19).

Baca juga: Empat sekolah di Jaksel jadi tempat akomodasi tenaga medis COVID-19
Baca juga: 19 sekolah di Jaktim siapkan gedung serbaguna COVID-19


Sudin Pendidikan Wilayah 1 Jakarta Timur yang meliputi Kecamatan Cakung, Kecamatan Duren Sawit, Pulogadung, Matraman, dan Jatinegara menyiapkan 19 gedung sekolah negeri SD, SMP, SMA dan SMK untuk keperluan tersebut.

Kepada warga sekolah, Ade memberikan penjelasan bahwa fasilitas rumah sakit rujukan dan utama penanganan COVID-19 di Jakarta sudah penuh, sehingga warga perlu menumbuhkan empati sosial untuk saling membantu sesama.

"Siapa yang mau di tempatnya ada isolasi COVID-19, tapi kita mau dimana lagi, kan tempat sudah pada penuh, kita saling bantu sesama," katanya.

Sosialisasi pemberian pemahaman kepada warga sekolah dilakukan lewat rapat daring (online) yang melibatkan kepala sekolah, guru, hingga komite sekolah.

Menurut Ade, belum tentu seluruh sekolah yang telah diajukan menjadi fasilitas isolasi bagi kasus COVID-19 akan dipakai semuanya.

"Bisa juga sama sekali tidak terpakai. Atau justru untuk keperluan lain seperti penyimpanan logistik atau aktivitas tenaga medis. Akan dilihat dulu sesuai kebutuhan," katanya.
Pewarta : Andi Firdaus
Editor: Sri Muryono
COPYRIGHT © ANTARA 2020