Alasan ekonomi jadi faktor masyarakat tetap beraktivitas di luar

Alasan ekonomi jadi faktor masyarakat tetap beraktivitas di luar

Bupati Sleman Sri Purnomo menyampaikan bantuan sembako dari tiga pilar Sleman bagi masyarakat terdampak wabah COVID-19. ANTARA/HO-Humas Pemkab Sleman

Sleman (ANTARA) - Banyak masyarakat di Sleman yang sudah mulai melakukan aktivitas di luar rumah pada masa perpanjangan pembatasan sosial untuk mencegah  COVID-19 hingga 28 April 2020, dengan alasan faktor ekonomi untuk memenuhi kebutuhan keluarga.

"Pada dua minggu pertama kemarin saya memang berusaha mematuhi anjuran pemerintah untuk tidak keluar rumah, namun karena saat ini kondisi sudah habis-habisan ya saya terpaksa keluar rumah untuk kerja guna memenuhi kebutuhan keluarga," kata Mujiaman (55) warga Kalasan yang berprofesi sebagai tukang bangunan di Sleman, Selasa.

Menurut dia, pada dua minggu pertama memang kebutuhan keluarga masih dapat dipenuhi dengan uang simpanan, namun setelah tidak bekerja selama dua minggu akhirnya simpanan menipis dan hampir habis.

"Tapi meskipun harus keluar rumah untuk mencari uang, saya tetap berusaha mematuhi anjuran pemerintah untuk mencegah penyebaran virus corona dengan melindungi diri agar tidak terpapar virus," katanya.

Baca juga: Pemudik yang datang ke Sleman-DIY wajib periksa ke faskes terdekat
Baca juga: Dampak COVID, Sleman berikan pengurangan pajak hotel dan restoran


Ia mengatakan, dirinya setiap keluar rumah juga selalu mengenakan masker, sering cuci tangan dan menjaga kebugaran tubuh.

"Ya siapapun pasti takut terkena corona, makanya saya juga berusaha melindungi diri agar tidak tertular," katanya.

Ia berharap jika memang tetap harus tinggal di rumah sementara waktu agar ada perhatian juga untuk pekerja nonformal yang selama pandemi COVID-19 ini tidak mendapat bantuan untuk kebutuhan sehari-hari.

"Saya lihat di berita-berita banyak bantuan diberikan untuk tukang ojek online, sebenarnya kami juga berharap dapat bantuan sehingga kami tidak harus keluar rumah saat wabah corona ini," katanya.

Baca juga: Tercatat 10 orang di Sleman meninggal akibat COVID-19 hingga 6 April
Baca juga: Kabupaten Sleman siapkan makam untuk jenazah pasien COVID-19


Hal sama juga disampaikan Didik (40) pedagang mie Jawa di Jalan Solo Km11, Purwomartani, Kalasan, Sleman yang terpaksa harus mulai berjualan lagi setelah dua minggu menutup warungnya.

"Dua minggu libur, sama sekali tidak ada pemasukan. Kebutuhan keluarga di rumah banyak. Terpaksa harus jualan lagi," katanya.

Sementara itu suasana di pasar tradisional Pasar Desa Purwomartani di Jalan Solo Km 10.5 Sorogenen, Kalasan juga sudah mulai ramai aktivitas para pedagang dan pembeli.

Jika pada dua minggu pertama aktivitas pasar milik Pemerintah Desa Purwomartani ini sempat sepi akibat wabah COVID-19 dan kebijakan pembatasan sosial, saat ini para pedagang sudah mulai banyak yang berjualan.

Sejumlah pedagang bukan hanya produk kemasan, tetapi juga pedagang sayuran, makanan, pedagang daging dan ikan juga mulai beraktivitas.

Hanya saja, pedagang di Pasar Desa Purwomartani tersebut masih banyak yang tidak mengenakan masker. Hanya pedagang daging ayam dan ikan saja yang terlihat mengenakan masker.

Baca juga: Pasien COVID-19 miskin di Sleman-Yogyakarta disiapkan jaminan hidup
Baca juga: Satu pasien COVID-19 di Sleman dinyatakan sembuh

 
Pewarta : Victorianus Sat Pranyoto
Editor: Budhi Santoso
COPYRIGHT © ANTARA 2020