KM Lambelu dilarang bersandar diduga dua ABK terinfeksi COVID-19

KM Lambelu dilarang bersandar diduga dua ABK terinfeksi COVID-19

Ilustrasi pemeriksaan kesehatan ABK kapal di perairan Kota Kupang, oleh KKP Tenau Kupang beberapa waktu lalu. (ANTARA/HO-KSOP Tenau Kupang).

Kupang (ANTARA) - Pemerintah Kabupaten Sikka melaporkan bahwa dari hasil rapid test terhadap 22 anak buah kapal (ABK) Pelni KM Lambelu yang berada di perairan Maumere, terdapat tiga orang yang bekerja di atas kapal itu diduga terinfeksi virus corona penyebab COVID-19.

Bupati Sikka Fransiskus Roberto Diogo dalam suratnya tertanggal Selasa (7/4) kepada Direktur PT. Pelni di Jakarta melarang kapal penumpang milik Pelni itu untuk bersandar di pelabuhan Lorens Say Maumere.

"Tiga orang itu antara lain satu petugas kantin dan dua anak buah kapal (ABK) di kapal itu," kata Bupati Fransikus dalam surat yang ditujukan kepada Direktur PT. Pelni di Jakarta itu.

Sebelumnya KM Lambelu beberapa waktu lalu sudah berlayar dari Nunukan Kalimantan Utara. Saat tiba di Nunukan kapal tersebut menurunkan sejumlah penumpang, diantara para penumpang itu terdapat empat orang yang dinyatakan positif COVID-19.

Kapal tersebut pun mengangkut kurang lebih 233 penumpang dari Kalimantan dan dari Sulawesi dengan tujuan akhir pelabuhan L. Say Maumere, Kabupaten Sikka.

Baca juga: Pemkab siapkan gedung karantina untuk 233 penumpang KM Lambelu

Namun kapal itu saat tiba di Maumere pada Senin (6/4) malam dilarang bersandar di pelabuhan itu oleh pemerintah setempat sebelum dilakukan pemeriksaan kesehatan serta rapid test kepada puluhan ABK.

Pemeriksaan kesehatan dan rapid test baru dilakukan pada Selasa pagi, namun proses pemeriksaan tetap dilakukan di tengah laut tanpa bersandar di pelabuhan Maumere.

Hasil rapid test menunjukkan tiga pekerja yang bekerja di atas kapal itu terindikasi terinfeksi oleh COVID-19. sehingga kapal tersebut masih berlabuh di tengah laut.

"Pemerintah Kabupaten Sikka telah mendapatkan arahan dari Gubernur NTT dan Kadis kesehatan NTT untuk mempertimbangkan alat kesehatan dan tenaga medis untuk melakukan penanganan terhadap pasien COVID-19, sehingga kami putuskan kapal itu tak boleh bersandar di pelabuhan Lorens Say," tambah dia.

Sementara untuk kepastian apakah tiga pekerja di atas kapal itu benar-benar terindikasi terinfeksi virus corona atau tidak, bupati menyatakan akan menyampaikan secara resmi melalui konferensi pers.

Baca juga: Ketua Satgas COVID-19 Bali minta jangan kucilkan ABK kapal pesiar
 
Pewarta : Kornelis Kaha
Editor: Zita Meirina
COPYRIGHT © ANTARA 2020