LIPI akan kembangkan primer untuk uji PCR deteksi COVID-19

LIPI akan kembangkan primer untuk uji PCR deteksi COVID-19

Dokumentasi - Sejumlah peneliti menguji sampel penelitian dalam workshop terkait perkembangan teknologi terbaru Polymerase Chain Reaction (PCR) berbasis digital (ddPCR) di Laboratorium Genomik dan Perbaikan Mutu Tanaman, LIPI, Cibinong, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, Rabu (30/10/2019). Keberadaan teknologi ddPCR dinilai efektif dan sesuai dengan kebutuhan digitalisasi dalam proses penelitian halal, penyakit dan produk rekayasa genetika. Data yang dihadirkan dari ddPCR mencermikan data berupa sinyal positif dan sinyal negatif serta memiliki tingkat sensitivitas dan akurasi yang tinggi. ANTARA FOTO/Yulius Satria Wijaya/foc/aa.

Jakarta (ANTARA) - LIPI akan mengembangkan primer untuk uji PCR (polymerase chain reaction) atau reaksi berantai polimerase dalam mendeteksi COVID-19.

Saat ini, primer masih diimpor dari luar negeri sementara semua negara yang terpapar COVID-19 utamanya membutuhkan dalam jumlah yang sangat besar untuk uji PCR.

"Untuk primer kami masih harus melakukan persiapan dengan DNA synthesizer yang di Indonesia baru ada di LIPI," kata Kepala LIPI Laksana Tri Handoko kepada ANTARA, Jakarta, Selasa.

Karena DNA synthesizer tersebut difokuskan untuk riset, maka pihak LIPI akan memastikan akurasi cukup baik untuk pembuatan primer untuk tujuan diagnostik.

Baca juga: DPRD sarankan Kepri gunakan RT-PCR mandiri deteksi COVID-19

DNA Synthesizer adalah alat untuk membuat primer. Primer adalah fragmen DNA untai pendek. Primer berfungsi sebagai pemula dalam proses amplifikasi atau perbanyakan gen dengan alat PCR. Jika tidak ada primer, gen tidak dapat diperbanyak.

Kepala Pusat Penelitian Bioteknologi LIPI Puspita Lisdiyanti mengatakan pihaknya sedang melakukan optimasi alat pembuat primer agar bisa segera difungsikan untuk membuat primer.

"Ada satu alat yang masih menunggu lagi perlu waktu dua minggu lagi, kita harus optimasi," ujarnya.

Dia menuturkan primer ditargetkan berhasil dibuat dalam beberapa bulan ke depan.

Puspita menuturkan pihaknya juga akan melakukan penelitian untuk mengetahui urutan basa dari virus SARS-CoV-2 penyebab COVID-19. Dengan diketahuinya urutan basa itu, maka diketahui pula informasi genetika virus itu, dan informasi itu dapat dimanfaatkan untuk pengembangan vaksin dan obat.

Sejumlah inovasi yang telah dihasilkan LIPI yang berguna untuk penanganan COVID-19 antara lain airborne sterilizer yang mampu mengeluarkan nano ozon yang dapat menangkap dan menghancurkan virus Corona di udara, mobile bilik disinfeksi, alat sterilisasi virus corona untuk uang kertas dan logam, serta alat pelindung diri (APD) ramah lingkungan bagi tenaga kesehatan dalam mencegah COVID-19, yang mencakup jas lab, penutup kepala, dan masker.

LIPI saat ini juga sedang menguji beberapa tanaman herbal, jamu, maupun obat herbal terstandar yang potensial sebagai penguat sistem imun (immunomodulator) dan obat pencegah atau penghambat virus (antiviral) bagi COVID-19. Beberapa tanaman tersebut mencakup jahe merah, echinaceae, meniran, sambiloto, kayu surian, akar manis, rosella, biji anggur, bawang putih, teripang, serta tempe.

Baca juga: LIPI latih SDM untuk pemeriksaan PCR deteksi COVID-19
Pewarta : Martha Herlinawati S
Editor: Zita Meirina
COPYRIGHT © ANTARA 2020