Peringatan hari perempuan internasional tekankan perlindungan anak

Peringatan hari perempuan internasional tekankan perlindungan anak

Suasana peringatan Hari Perempuan Internasional di Makassar yang mengkampanyekan pencegahan pernikahan anak di bawah umur di Sulawesi Selatan, Minggu (8/3/2020). ANTARA/HO-Lusia P

Makassar (ANTARA) - Peringatan Hari Perempuan Internasional (HPI) yang diprakarsai Koalisi STOP Perkawinan Anak di Sulawesi Selatan menekankan pada perlindungan anak dengan kampanye dan sosialisasi pencegahan perkawinan anak.

"Persoalan ini sangat penting ditangani, mengingat anak adalah generasi penerus bangsa, sehingga harus memiliki pondasi yang kuat dalam menentukan langkahnya ke depan," kata salah seorang aktivis perempuan Husaimah Husain yang tergabung dalam Koalisasi STOP Perkawinan Anak di sela peringatan HPI di Makassar, Minggu.

Dia mengatakan, relevansi yang kuat antara perempuan dan anak menjadikan momentum ini untuk mengampanyekan dan menyosialisasikan pencegahan perkawinan anak.

Baca juga: Hari perempuan internasional garis bawahi isu ketidaksetaraan ekonomi
Baca juga: WHO soroti akses layanan kesehatan di Hari Perempuan Internasional


Pasalnya, Sulsel menjadi penyumbang tertinggi ke-5 secara nasional untuk angka perkawinan di bawah 15 tahun. Sementara Indonesia merupakan salah satu dari 10 negara dengan perkawinan anak tertinggi di dunia.

Khusus di Sulsel, imbuh Ketua Lembaga Perlindungan Anak (LPA) Fadiah Machmud, sekitar 30,5 persen pernikahan yang terjadi adalah anak di bawah umur.

Dia mengatakan, terdapat lima daerah di Sulsel sebagai penyumbang terbesar pernikahan di bawah umur yakni Kabupaten Soppeng, Luwu, Wajo, Bone dan Takalar.

Baca juga: Wakil Ketua MPR menilai jurang kesetaraan gender masih lebar
Baca juga: Menteri PPPA : Bali masuk peringkat ke-26 perkawinan anak tertinggi


Berkaian dengan hal tersebut, sangat penting semua pihak bergandengan tangan menekan jumlah kasus perkawinan di bawah umur ini. Karena hal ini selain menyangkut kesehatan reproduksi anak perempuan, juga kesiapan mental untuk berumah tangga.

Dampak negatif lainnya, kata Kepala Perwakilan Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) Sulsel Andi Ritamariani, anak yang lahir dari perempuan yang menikah dan hamil di bawah umur 17 tahun, maka anaknya berpeluang mengalami "stunting" (kerdil).

Data anak yang mengalami stunting berdasarkan hasil Riset Kesehatan Daerah (Riskesda) tercatat 30,8 persen pada 2018 dan pada tahun berikutnya turun menjadi 27,67 persen secara nasional.

Sementara peringatan HPI di Makassar, selain melakukan kampanye dan sosialisasi pencegahan pernikahan anak di bawah umur, juga digelar talk show yang mengusung tema "Refleksi Gerakan Perlindungan Anak di Sulawesi Selatan", dialog publik "RUU Ketahanan Keluarga" dan festival merayakan kepemimpinan dan kemandirian perempuan.

Baca juga: Pendidikan kesehatan reproduksi dinilai mutlak cegah perkawinan anak
Baca juga: KPPPA: Perlu kerja ekstra keras turunkan angka perkawinan anak
Baca juga: Kelekatan budaya dan ekonomi tantangan terbesar cegah perkawinan anak

 
Pewarta : Suriani Mappong
Editor: Budhi Santoso
COPYRIGHT © ANTARA 2020