F-NasDem: Ada potensi 'abuse of power' dalam RUU Data Pribadi

F-NasDem: Ada potensi 'abuse of power' dalam RUU Data Pribadi

Ketua DPP Partai NasDem Willy Aditya (ANTARA News/Fathur Rochman)

Jakarta (ANTARA) - Anggota Komisi I DPR RI Fraksi Partai NasDem Willy Aditya mengingatkan ada potensi penyalahgunaan kekuasaan oleh negara atau "abuse of power" dalam RUU Pelindungan Data Pribadi (PDP).

Menurut dia, potensi tersebut terlihat dari tidak jelasnya ketentuan yang mengatur sanksi terhadap lembaga negara jika terjadi penyalahgunaan data pribadi warga negara.

Baca juga: Anggota DPR: RUU PDP harus perhatikan aspek "people security"

Baca juga: Anggota DPR: Bangun infrastrurktur teknologi antisipasi pencurian data

Baca juga: Anggota DPR usul bentuk lembaga penyeimbang terkait data pribadi


"Dalam RUU yang sudah masuk ke DPR, hal ini belum diatur. RUU PDP hanya mengatur sengketa antar pribadi dan sengketa pribadi dengan korporasi," kata Willy Aditya di Jakarta, Selasa.

Menurut Willy, hal itu sangat penting karena menyangkut poin yang paling mendasar dalam isu perlindungan data pribadi, yaitu kedaulatan diri pribadi harus menjadi semangat utama RUU tersebut, bukan data pribadi sebagai komoditas semata.

Terkait hal tersebut menurut dia bukan hanya korporasi yang berpotensi melakukan pelanggaran namun lembaga negara juga berpotensi melanggar atau melakukan penyalahgunaan terhadap data pribadi warganya.

"Kasus Ilham Bintang menjadi contoh yang paling aktual terkait hal ini. Dalam kasus tersebut, OJK menjadi pihak yang disinyalir paling bertanggung jawab atas kerugian yang dialami olehnya," ujarnya.

Willy mengatakan, banyak lembaga negara yang saat ini memiliki data pribadi warga seperti Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri), Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo), dan Kepolisian.

Dia menilai RUU PDP juga harus menekankan bagaimana antisipasi terhadap penyalahgunaan lembaga negara atas data pribadi warganya jangan sampai kedaulatan warga terlanggar, meski atas nama negara.

Atas pertimbangan itu menurut Willy, dirinya menyampaikan saran untuk dipertimbangkan pembentukan sebuah kelembagaan yang secara khusus bertindak sebagai regulator dan pengawas dalam rangka pelindungan data pribadi ini.

"Keberadaan lembaga ini bersifat independen seperti lembaga-lembaga lainnya. Lembaganya independen seperti Komnas HAM, KPI, KPK," katanya.

Baca juga: RUU Perlindungan Data Pribadi, jangan ada lagi kebocoran

Baca juga: Puan: DPR-Pemerintah sinergis bahas RUU Perlindungan Data Pribadi
Pewarta : Imam Budilaksono
Editor: Kunto Wibisono
COPYRIGHT © ANTARA 2020