Penderita kanker payudara di Sumut capai 856 pasien

Penderita kanker payudara di Sumut capai 856 pasien

Kepala Dinas Kesehatan Sumut dr Alwi Mujahit Hasibuan dan tim medis RS Murni Teguh, Medan memberi edukasi soal kanker di peringatan Hari Kanker Se Dunia di Medan, Selasa. (Foto : ANTARA/Evalisa Siregar).

Medan (ANTARA) - Kanker payudara menempati posisi terbanyak atau 856 kasus/kejadian dari total jumlah penderita kanker di Sumatera Utara (Sumut) pada tahun 2019.

"Memang jumlah penderita kanker payudara pada 2019 menurun dibandingkan tahun sebelumnya yang di atas seribu. Tapi itu belum memuaskan," ujar Kepala Dinas Kesehatan Sumut, dr Alwi Mujahit Hasibuan di Medan, Selasa.

Dia mengatakan itu usai acara peringatan Hari Kanker Sedunia 2020 di Medan.

Menurut dia, penyakit kanker masih jadi ancaman karena dari pola hidup, masyarakat di Sumut belum baik.

Mulai makan tidak sehat, kebiasaan merokok dan minum alkohol, kurang makan sayur dan berolah raga, serta terkena polusi udara.

"Semuanya itu membuat potensi kasus penyakit kanker semakin besar," ujarnya.

Ancaman kanker, tambahnya semakin besar karena masyarakat masih belum menyadari perlunya memeriksakan diri secara dini.

Padahal pemeriksaan secara dini bisa dapat mendeteksi dan mencegah penyakit kanker ke arah stadium akhir.

Pemilik Rumah Sakit (RS) Murni Teguh dr Mutiara, menyebutkan kasus penyakit kanker terus meningkat setiap tahun.

Berdasarkan data Globocan tahun 2012, di seluruh dunia terdapat 14,1 juta kasus kanker baru dan sebanyak 8,2 juta kasus kematian yang diakibatkannya.

"Penderita kanker diperkirakan akan meningkat setiap tahunnya hingga mencapai 23,6 juta kasus baru pada tahun 2030," sebutnya.

Tingginya penderita kanker di Indonesia juga membuat pembiayaan terhadap pasien kanker meningkat.

Data dari BPJS Kesehatan, hingga akhir tahun 2015, penyakit kanker menghabiskan biaya sebesar Rp2,2 triliun dan menempati urutan ke tiga setelah penyakit jantung dan gagal ginjal.

"Untuk itu perlu terus ada edukasi bahwa kanker adalah penyakit yang bisa ditangani jika diketahui dan diobati sejak dini," katanya.

.
Pewarta : Evalisa Siregar
Editor: Hendra Agusta
COPYRIGHT © ANTARA 2020