BMKG: Barat-selatan dilanda tekanan rendah di tenggara Aceh

BMKG: Barat-selatan dilanda tekanan rendah di tenggara Aceh

Terlihat sepasang suami/isteri yang rumah warga mengalami banjir akibat angin bertekanan rendah bagian tenggara Aceh di Simeulue, Aceh, Rabu (29/1/2020). ANTARA/HO-BPBD Simeulue.

Banda Aceh (ANTARA) - Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Aceh menyebut, wilayah barat-selatan sedang dilanda cuaca ekstrem pekan ini yang mengakibatkan bencana hidrometeorologi terjadi akibat udara bertekanan rendah di bagian tenggara Aceh dari perairan Samudera Hindia.

"Kita perkirakan di sana (barat-selatan Aceh) sudah mulai sedikit membaik. Karena kemarin memang ada tekanan rendah di sebelah tenggara Aceh," terang Kepada Seksi Data dan Informasi BMKG Stasiun Meteorologi Kelas I Aceh, Zakaria Ahmad di Banda Aceh, Jumat.

Akibat dari fenomena alam tersebut, lanjut dia, maka menyebabkan angin bertekanan rendah, terutama terjadi belokan arah angin tersebut yang dapat berkumpulnya uap-uap air di wilayah tersebut.

Uap-uap air ini, lanjutnya, menjadi awan hujan yang menyebabkan terjadinya bencana hidrometeorologi pada wilayah pesisir barat-selatan di provinsi paling barat Indonesia ini.

Baca juga: Jakarta diperkirakan hujan pada Jumat siang
Baca juga: BMKG: Februari-Maret waspadai potensi banjir


Seperti diketahui, bencana hidrometeorologi merupakan bencana yang dipengaruhi faktor cuaca, seperti banjir, longsor, banjir bandang, genangan, angin kencang, pohon tumbang, angin kencang, puting beliung, dan lain sebagainya.

"Namun dalam tiga hari ke depan, cuacanya akan membaik. Artinya hujan masih ada, tetapi tak separah kemarin dengan intensitas curah hujan di atas 100 milimeter," tutur dia.

"Karena sudah hilangnya tekanan rendah. Kita lihat pagi tadi, sudah ada lagi. Cuma ada sedikit belokan angin, dan mudah-mudahan akan segera membaik cuaca di barat-selatan," tutur Zakaria.

Badan Penangulangan Bencana Aceh (BPBA) pekan ini mencatat, sedikitnya tiga daerah di wilayah barat-selatan provinsi ini terendam banjir dengan tumbangnya sejumlah pohon, yakni Simeulue, Aceh Singkil, dan Aceh Selatan.

"Ada 8.295 jiwa dengan 2.530 kepala keluarga menjadi korban banjir pada 21 desa di lima kecamatan," ucap Kepala Pelaksana BPBD Aceh Selatan Cut Sazalisma.

Tidak hanya menjadi korban banjir, katanya, namun juga masyarakat yang terdampak akibat tanah longsor hingga menutupi badan jalan.

Baca juga: Tinggi gelombang Papua sepekan capai empat meter, sebut BMKG
Baca juga: Komisi V minta BMKG tingkatkan sistem peringatan dini
Baca juga: Meningkatnya suhu di Palu akibat puncak inklinasi, sebut BMKG
Pewarta : Muhammad Said
Editor: Budhi Santoso
COPYRIGHT © ANTARA 2020