Eijkman: 2019-nCov jenis virus corona ke-7 menginfeksi manusia

Eijkman: 2019-nCov jenis virus corona ke-7 menginfeksi manusia

Seorang petugas medis menangani pasien yang terduga terkena virus corona di Zhongnan Hospital of Wuhan University, Wuhan, China, Jumat (24/1/2020). ANTARA/HO-Xinhua/Xiongqi/mii/aa.

Jakarta (ANTARA) - Kepala Lembaga Biologi Molekuler Eijkman, Prof. Amin Subandriyo mengatakan virus corona jenis baru yang pertama kali muncul di Wuhan, China, yakni 2019-nCov menjadi jenis virus corona ke-7 yang diidentifikasi menginfeksi manusia.

"Sampai saat ini sudah ada enam jenis virus corona yang diketahui yang menyerang manusia, dan sekarang tambah lagi 2019-nCoV," kata Amin kepada ANTARA di  Jakarta, Minggu.

Tujuh virus corona yang sudah diketahui dapat menginfeksi manusia adalah 229E (alpha coronavirus), NL63 (alpha coronavirus), OC43 (beta coronavirus), dan HKU1 (beta coronavirus), Severe Acute Respiratory Syndrome (SARS), Middle East Respiratory Syndrome-Corona Virus (MERS-CoV), dan yang terbaru muncul adalah 2019 Novel Coronavirus atau 2019-nCoV.

Virus corona jenis baru yang muncul di China itu dapat menular dari hewan ke manusia dandan antarmanusia. Gejala yang dialami orang ketika terjangkit virus ini antara lain batuk, flu, demam, sesak nafas, kesulitan pernafasan, gagal nafas, gagal ginjal, hinhingga mengakibatkan kematian.
Baca juga: Ketum PDPI: Masyarakat hindari sentuh hewan cegah virus corona

Sampai saat ini, kemunculan virus corona jenis baru di pusat kota Wuhan, China, maupun laju perkembangan dan mutasi virus corona belum dikaitkan dengan dampak perubahan lingkungan seperti berkurangnya tutupan lahan dan perubahan iklim atau cuaca. Untuk itu, perlu penelitian lebih lanjut untuk melihat ada tidaknya kaitan antara perubahan iklim dengan perkembangan mutasi virus tersebut

"Virus 2019-nCoV diketahui belum bermutasi," ujar Amin.

Virus corona dapat menular melalui sentuhan atau kontak, tidak berarti menembus kulit yang utuh, tetapi tangan atau jari yang menyentuh benda-benda tercemar misal meja, pegangan pintu, dan pegangan tangga, kemudian menyentuh mulut, hidung, atau mata. Dengan menyentuh sesuatu yang telah tercemar, orang bisa terinfeksi virus corona.

Virus corona juga dapat menular antar manusia misalnya melalui masuknya cairan terinfeksi atau sekresi dari orang terjangkit virus corona. Virus itu dapat tersebar melalui melalui batuk atau bersin.
Baca juga: Sampit rawan virus corona karena ada kapal masuk dari China

Virus SARS atau Sindrom Pernafasan Akut Parah, yang menewaskan hampir 650 orang di seluruh daratan Cina dan Hong Kong pada 2002-2003.

Virus korona manusia pertama kali diidentifikasi pada pertengahan 1960-an.

Virus corona banyak ditemukan di binatang. Virus MERS ditularkan dari unta ke manusia. Sementara, virus corona yang baru ditemukan di China ditengarai ditularkan oleh ular atau kalelawar. SARS diyakini ditularkan oleh musang ke manusia.

Pada 9 Januari 2020, Organisasi Kesehatan Dunia menyebutkan virus corona yang baru diidentifikasi oleh otoritas China. Kemunculan virus tersebut berkaitan dengan wabah pneumonia di Kota Wuhan, Provinsi Hubei, China.
Baca juga: Data baru virus korona: 56 orang meninggal, 2.000 tertular

SARS-CoV merupakan sindrom pernafasan akut yang parah dan pertama kali diidentifikasi di China pada November 2002. Virus corona ini mengakibatkan wabah dengan 8.098 kemungkinan kasus termasuk 774 kematian pada 2002-2003. Sejak 2004, belum ada kasus infeksi SARS-CoV dilaporkan dari segala penjuru di dunia.

Sementara itu, MERS-CoV pertama kali diidentifikasi di Arab Saudi pada 2012.

Hingga Sabtu (25/1), jumlah korban meninggal akibat wabah virus corona baru di China telah meningkat menjadi 56 sementara mereka yang terjangkiti virus tersebut mencapai hampir 2.000 orang di China.

Sejumlah kasus terkait orang dengan positif terjangkt virus 2019-nCoV telah ditemukan di Vietnam, Thailand, Filipina, Singapura, Jepang, Korea Selatan, Australia dan Amerika Serikat.

Baca juga: Menkes direncanakan kunjungan kerja ke Manado sore ini

Pewarta : Martha Herlinawati S
Editor: Muhammad Yusuf
COPYRIGHT © ANTARA 1970