Festival Serak Gulo dan jejak akulturasi budaya India di Padang

Festival Serak Gulo dan jejak akulturasi budaya India di Padang

Warga berebut gula pada Festival Serak Gulo yang digelar di Padang, Sabtu (25/1) (Antara/Ikhwan Wahyudi)

Padang, (ANTARA) - Tanggal 1 Jumadil Akhir pada penanggalan kalender Hijriah merupakan hari yang dinanti warga keturunan India di Kota Padang, Sumatera Barat.

Setiap awal bulan Jumadil Akhir tersebut mereka rutin melaksanakan Festival Budaya yang diberi nama Serak Gulo atau tebar gula pasir.

Acara Serak Gulo selalu dinanti oleh sekitar 8.000 warga keturunan India yang mendiami Kota Padang dan dalam tiga tahun terakhir prosesi ini kian meriah karena masuk dalam kalender wisata kota Padang sebagai salah satu even budaya yang juga mendapatkan dukungan dana dari APBD kota.

Selepas Ashar pada Sabtu 25 Januari 2020 bertepatan dengan 1 Jumadil Akhir 1441 Hijriah, suasana di depan Masjid Muhammadan di jalan Batipuh Panjang, Kecamatan Padang Selatan, Kota Padang mulai ramai dipadati warga yang hendak berburu gula.

Baca juga: "Serak gulo" simbol keberkahan warga keturunan India

Kawasan yang dominan dihuni oleh warga Muslim keturunan India tersebut menjadi lokasi kegiatan Serak Gulo.

Sekitar empat ton gula pasir yang sudah disiapkan panitia untuk dibagikan kepada warga telah disiapkan. Gula tersebut dibungkus dalam kain perca berwarna-warni dengan berat mulai dari 100 gram.

Kegiatan diawali dengan pembacaan doa dan dilanjutkan pemasangan bendera berbentuk segi tiga berwarna hijau dan putih pada seutas tali sepanjang 20 meter yang direntangkan di atap Masjid Muhammadan.

Setelah itu belasan pemuda dewasa mulai mengangkat berkarung-karung gula ke atas atap masjid, yang dalam setiap karung telah tersedia gula pasir yang dibungkus dengan kain perca berwarna-warni.

Agar tidak menumpuk panitia juga menyediakan empat titik lainnya dari konstruksi besi setinggi dua meter di sepanjang Batipuh Panjang sehingga ada total lima titik pelemparan gula untuk diperebutkan warga.

Usai berdoa bersama, gula dilemparkan ke bawah untuk diperebutkan oleh ratusan warga yang telah menunggu dengan kedua tangan direntangkan ke atas guna menangkap gula yang dilempar dari atas atap masjid.

Tua, muda hingga anak-anak berbaur penuh keceriaan dan kegembiraan menangkap gula.

Tak jarang rambut pun akhirnya penuh taburan gula karena ada bungkusnya yang pecah, namun suasana meriah pada sore itu punya kesan mendalam bagi setiap yang hadir.

Suasana kian semarak karena Wakil Gubernur Sumbar Nasrul Abit dan Wali Kota Padang Mahyeldi turut serta naik ke atap masjid dan melempar gula kepada warga yang telah ramai di bawah.

Akhirnya dalam waktu 20 menit empat ton gula pasir yang dibungkus dengan kain perca berwarna warni ludes diperebutkan ribuan warga.

Baca juga: Warga keturunan India gelar tradisi serak gulo

Ketua Himpunan Keluarga Muhammadan Padang Ali Khan Abu Bakar menjelaskan serak gulo adalah tradisi turun temurun yang dilaksanakan dalam rangka mengenang salah seorang ulama di India yang bernama Souhul Hamid.

"Souhul Hamid merupakan salah seorang penyebar agama Islam dan ia suka membagikan gula, serak gulo merupakan simbol manisnya ilmu yang diberikan,"ujar dia

Ia mengatakan tradisi serak gulo merupakan salah satu kebudayaan masyarakat India Muslim yang dibawa ke kota Padang dan di dunia hanya dilakukan pada dua tempat yaitu di Padang dan India.

Serak gulo pertama kali dilaksanakan di India tepatnya di Tamil Nadu Cenai.

Menurut dia menyambung silaturahmi dan meningkatkan kepedulian untuk saling berbagi merupakan filosofi dari kegiatan ini.

"Bahkan tak jarang ada yang bertemu jodoh di sini," katanya.

Saat ditanya kapan dimulai tradisi ini ia tidak tahu persis karena saat kecil sudah mengikutinya dan kakeknya saat kecil juga telah menjalankannya.

Tradisi ini boleh diikuti siapa saja tidak terbatas warga keturunan India saja , semua masyarakat boleh ikut, ucap dia.

Untuk gula sendiri dikumpulkan secara sukarela lewat sumbangan dari warga keturunan India hingga warga Padang lainnya.

Ketua Panitia Pelaksana Refri Hamdani Ali menyampaikan festival ini telah mematahkan pandangan yang menyebut Kota Padang tidak toleran.

Festival Serak Gulo menjadi saksi bahwa warga keturunan India dan dengan warga sekitar bisa hidup berdampingan dengan baik, kata dia.

Karena memiliki daya tarik yang cukup kuat acara ini juga ramai diikuti para fotografer, pegiat media sosial, bloger hingga youtuber yang ingin mengabadikan momen menarik tersebut.

Rahmi salah seorang warga keturunan India yang hadir mengatakan salah satu tujuan hadir pada acara ini agar memperoleh keberkahan dari gula yang diperoleh .

"Supaya tercapai apa yang menjadi cita-cita pada tahun ini, sehat selalu, dan segera mendapatkan pekerjaan," kata dia yang baru saja lulus kuliah.

Pada kesempatan itu ia berhasil memperoleh enam kantong gula itu merasa bangga tradisi yang berasal dari tanah leluhurnya masih bertahan hingga saat ini.

Sementara, Wali Kota Padang Mahyeldi mengatakan kegiatan serak gulo merupakan salah satu even kalender pariwisata kota Padang yang rutin digelar setiap tahun.

Dari 35 even pariwisata pada 2020 Festival Serak Gula merupakan kegiatan pertama pada tahun ini, ujarnya.

Ia mengatakan Padang merupakan kota multi etnis dan pemerintah kota mengayomi semua suku yang ada.

Wali kota juga menyampaikan agar Jalan Batipuh Panjang diganti dengan Jalan Little India dan meminta Camat Padang Selatan segera mewujudkannya.

Ia mengatakan akulturasi masyarakat India dengan warga Minang sudah sangat baik buktinya banyak warga India yang mahir berbahasa Minang dan acara serak gulo juga dihadiri beragam suku yang ada di Padang.

"Ini juga merupakan wadah membangun kebersamaan dan memperdekat pertautan hubungan masyarakat keturunan India yang ada di Padang dengan warga setempat," ujar dia.

Wali Kota juga menyampaikan pihaknya telah mengkonkretkan sejumlah rencana kerja sama dengan India khususnya pada bidang pariwisata, perdagangan, pendidikan dan teknologi informasi.

"Kami telah mengajukan proposal untuk Kota Chennai terkait beberapa poin kerja sama diantaranya di bidang pariwisata karena Padang dan Chennai memiliki kemiripan budaya," kata Mahyeldi.

Menurut dia saat ini sudah ada kerja sama dalam bentuk kota kembar antara Padang dengan Chennai, yang berada di Provinsi Tamil Nadu, India.

Kerja sama sister city Padang-Chennai ini sudah digagas pada November 2018. Dan kita sudah berkunjung ke sana, dan pihaknya sudah berkirim surat ke Pemerintah Kota Chennai dan juga ditembuskan kepada Gubernur Tamil Nadu, katanya.

Lebih lanjut Mahyeldi menyampaikan pihak Kedubes India di Jakarta dan Konjen India di Medan telah saling mendukung dengan serius dalam mewujudkan kota kembar Padang-Chennai.

Hal itu terbukti dan ditandai dengan adanya beberapa even yang dilakukan oleh Kedubes India di Jakarta selalu mengundang Kota Padang, termasuk kunjungan Konjen India ke Padang yang kedua, katanya.

Baca juga: Merebut keberkahan lewat tradisi serak gulo
 
Pewarta : Ikhwan Wahyudi
Editor: Zita Meirina
COPYRIGHT © ANTARA 1970