YPI libatkan emak-emak sebagai relawan pendamping ODHA

YPI libatkan emak-emak sebagai relawan pendamping ODHA

Relawan YPI dan para ODHA berkumpul dalam kegiatan Ngobras atau ngobrol santai sambil makan siang di sanggar YPI, Tebet, Jakarta Selatan, Rabu (4/12/2019) (ANTARA/Laily Rahmawaty)

Jakarta (ANTARA) - Lembaga kemasyarakat yang bergerak di bidang HIV/AIDS Yayasan Pelita Ilmu (YPI) memiliki cara unik memberikan pendampingan kepada orang dengan HIV/AIDS atau ODHA yakni melibatkan kelompok emak-emak atau ibu rumah tangga sebagai relawan pendamping ODHA.

Wakil Ketua YPI Husein Habsyi, di Jakarta Selatan, Rabu, mengatakan pemilihan emak-emak sebagai pendamping ODHA dengan berbagai pertimbangan salah satunya jumlah perempuan yang terinfeksi HIV terus meningkat dari tahun-tahun sebelumnya.

Data dari Kementerian Kesehatan menyebutkan jumlah perempuan dengan HIV sebesar 36,2 persen (periode 2008-2018).

"Selain itu ibu rumah tangga atau emak-emak ini adalah kelompok beresiko yang terinveksi HIV," kata Husein saat ditemui dalam acara HUT ke-30 YPI.

Husein mengatakan jika dulu HIV didominasi kelompok homoseksual, lalu bergeser ke kelompok heteroseksual, lalu pengguna narkoba suntik, dan kini trennya menyasar populasi umum yakni ibu rumah tangga.

Menurut Husein, jumlah emak-emak sebagai relawan pendamping ODHA cukup banyak, terutama mereka yang tinggal di lingkungan dekat sanggar YPI berada yakni di kawasan Tebet, Jakarta Selatan.

Untuk menjadi relawan pendamping ODHA sebelumnya para emak-emak harus dilatih terlebih dahulu, terutama bagaimana menjadi seorang pendengar yang baik.

"Orang HIV butuh tempat untuk dia bercerita, berkeluh kesah, terutama bagi orang yang baru divonis HIV, ada kecenderungan mereka depresi, menarik diri dan mengucilkan diri sendiri," kata Husein.

Pelatihan yang diberikan adalah, teknik bagaimana menjadi pendengar yang baik, dari gerak tubuh dan cara menjawab atau mendengar cerita ODHA.

Selain itu yang paling penting adalah relawan emak-emak harus bisa menjaga rahasia, jika tidak bisa makan akan dikenali sanksi melanggar kode etik relawan YPI.

"Masalah kerahasiaan itu penting, karena itu diperlukan teman untuk berbagi masalah itu yang bisa menampung masalahnya menjadi pendengar yang baik itu yang penting," kata Husein.

Beberapa kegiatan pendampingan yang dilakukan relawan emak-emak kepada ODHA paling sering adalah menjadi teman curhat karena ODHA.

YPI juga melatih nenek-nenek yang cucunya terinveksi HIV melalui orang tuanya, beberapa di antara anak HIV tersebut orang tuanya sudah meninggal karena AIDS.

Pendampingan lain yang diberikan mengurus pemandian jenazah HIV, para relawan akan mengajak emak-emak lainnya untuk ikut memandikan jenazah perempuan HIV.

"Mereka juga mengingatkan para ODHA untuk mengkonsumsi ARV tepat waktu, dan berkonsultasi agar mereka tetap berdaya," katanya.

Selain emak-emak, YPI juga melatih sejumlah ODHA sebagai relawan yang mendampingi ODHA lainnya terutama yang baru terdiagnosis positif HIV.

"Karena ODHA ini paling tau bagaimana cara mereka bangkit dan berjuang, pengalaman itu di transfer ke ODHA yang masih baru, agar sama-sama bisa berjuang," kata Husein.

YPI merupakan lembaga kemasyarakat pertama di Indonesia yang konsern pada permasalah HIV/AIDS, berdiri pada 4 Desember 1989.

Baca juga: Waspada buat istri, bisa jadi suami anda homoseksual

Baca juga: Sulitnya mendampingi anak dengan HIV

Baca juga: Makassar ajak warga sukseskan Tiga Nol pada peringatan Hari AIDS


Uti (56) salah satu emak yang bergabung sebagai relawan YPI merasakan manfaatnya menjadi pendamping ODHA, dari awalnya dia hanya hadir aktif mengikuti kegiatan YPI kini diminta menjadi relawan.

Uti dipercaya sebagai relawan yang mengurus konsumsi di YPI, ia juga aktif mengajak ibu-ibu di sekitar sanggar YPI untuk mengikuti kegiatan pelatihan di YPI.

"Ilmu yang didapat sangat banyak, terutama kita bisa lebih menghargai mereka yang ODHA," kata Uti.
Pewarta : Laily Rahmawaty
Editor: Ganet Dirgantara
COPYRIGHT © ANTARA 2019