Obat kaki gajah segera dibagikan di Kabupaten Yapen-Papua

Obat kaki gajah segera dibagikan di Kabupaten Yapen-Papua

Kepala Bidang Pengendalian dan Pemberantasan Penyakit (P2P) Dinkes Yapen, Andi Raya Surjanto. (FOTO ANTARA/Musa Abubar)

Jayapura (ANTARA) - Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Kepulauan Yapen, Provinsi Papua menyatakan  segera membagikan obat kaki gajah (filariasis) kepada warga di daerah itu.

"Pada Oktober ini Dinkes juga sudah menyosialisasikan tentang penyakit kaki gajan tersebut kepada warga," kata Kepala Dinkes Kabupaten Kepulauan Yapen, Karolus Tanawani ketika dikonfirmasi dari Jayapura, Selasa.

Ia menjelaskan Dinkes melaksanakan penanganan kaki gajah hampir setiap tahun, karena Kabupaten Kepulauan Yapen termasuk daerah yang prevalensi firaliasisnya cukup tinggi.

"Kami juga membagikan obat filariasis itu setiap tahun," katanya.

Karolus Tanawani mengakui pihaknya sudah menerima obat program kaki gajah itu dari Dinas Kesehatan Provinsi Papua dan segera dibagikan ke kampung-kampung yang ada di Yapen.

"Alokasi obat yang kami terima dari Dinkes Provinsi Papua itu sudah ada. Tahun lalu sudah kami jangkau tetapi dari evaluasi Dinkes Provinsi Papua, di Yapen ini masih ada beberapa yang belum dijangkau," ujarnya.

Pihaknya akan terus membagikan obat kaki gajah itu tiap tahun kepada warga. Jika ada evaluasi dari provinsi dan sudah sesuai dengan standar maka akan dihentikan.

Sementara itu, Kepala Bidang Pengendalian dan Pemberantasan Penyakit (P2P) Dinkes Yapen, Andi Raya Surjanto mengatakan, kasus kaki gajah di Yapen cukup banyak, sudah hampir empat tahun lebih pihaknya membagikan obat kaki gajah kepada warga.

"Hingga kini sudah tahun kelima kita menjalankan program kaki gajah dan tahun ini kita harapkan menjadi tahun terakhir," ujarnya.

TNI Obati Kesehatan Kaki Gajah di Perbatasan Papua



Menurut dia, lantaran sudah tahun kelima, maka diperkirakan pada 2020 dari Organisasi Kesehatan D (WHO) akan turun ke Yapen untuk memeriksa daerah kaki gajah di Yapen seperti di Kampung Tindaret, Windesi, dan Kampung Pom.

"Kalau sudah tidak ditemukan cacing filaria-nya berarti kita sudah dinyatakan aman untuk kaki gajah, karena sebelumnya pernah dilakukan di 2005 masih ada makanya masih dilakukan pengobatannya secara massal," ujarnya.

Ia menambahkan, pada Oktober ini pihaknya sudah menjalankan program kaki gajah, warga juga sudah diedukasi melalui radio dan sarana komunikasi melalui RRI dan lintas sektor.

Sosialisasi juga dilakukan dimasing-masing puskesmas melalui musrenbang kampung dan juga tingkat distrik untuk minum obat filariasis ini secara massal mengingat tahun ini adalah tahun yang terakhir.

Baca juga: Pemberian obat filariasis Papua Barat lampaui target

Baca juga: Pemkab Biak canangkan minum obat Filariasis cegah penyakit kaki gajah

Baca juga: Kemenkes sebut minum obat paling efektif cegah kaki gajah
Pewarta : Musa Abubar
Editor: Andi Jauhary
COPYRIGHT © ANTARA 2019