Rektor ULM siapkan Rp500 juta dana riset menuju guru besar

Rektor ULM siapkan Rp500 juta dana riset menuju guru besar

Rektor ULM Prof Dr H Sutarto Hadi saat mengukuhkan Prof Dr Hj Aslamiah MPd PhD sebagai Guru Besar. ANTARA/Firman

Banjarmasin (ANTARA) - Rektor Universitas Lambung Mangkurat (ULM) Banjarmasin Prof Dr H Sutarto Hadi menantang para dosen yang sudah bergelar akademik Doktor (S3) untuk segera meraih guru besar dengan menyediakan dana Rp500 juta untuk dana riset menuju jabatan fungsional tertinggi bagi dosen itu.

"Saya tidak segan-segan memberikan dana dari Rp250 juta  hingga Rp500 juta per orang tidak masalah asal targetnya jelas, bisa menciptakan profesor-profesor baru di ULM," katanya di Banjarmasin, Senin.

Hal itu disampaikan Sutarto usai mengukuhkan Prof Dr Hj Aslamiah MPd PhD sebagai Guru Besar Bidang Ilmu Manajemen Pendidikan, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) yang berlangsung di Aula lantai 1 Rektorat ULM di Banjarmasin.

Dia menargetkan 100 guru besar hingga akhir masa kepemimpinannya 4 tahun pada periode kedua menjabat sebagai Rektor ULM.

Dimana jumlah 100 profesor itu, berarti 10 persen dari jumlah seluruh dosen ULM yang saat ini mencapai 1.200 orang.
Baca juga: ULM programkan satu prodi satu profesor

Target tersebut menurut Sutarto cukup realistis, mengingat ada sekitar 320 dosen bergelar Doktor dengan karya ilmiah atau publikasi yang diakui dunia di jurnal internasional.

"Saya sudah cek publikasi para dosen ULM. Jadi saya berharap dengan dosen-dosen muda yang karyanya sangat banyak bisa untuk mempercepat proses guru besar," jelasnya.
Rektor ULM Prof Dr H Sutarto Hadi. (antara/foto/firman)
Sutarto pun bertekad pada tahun 2020 mengucurkan minimal Rp 20 miliar untuk dana riset alias naik 10 kali lipat dari sekarang. Sehingga dengan dana cukup besar itu, kemudian program dosen wajib meneliti, maka diyakininya jumlah publikasi naik dengan beragam inovasi terus dihasilkan. Alhasil, target dia satu program studi (prodi) satu guru besar dapat tercapai.

"Ini semua bisa mendorong pengembangan Sumber Daya Manusia agar dipacu terus.
Yang dari asisten menjadi lektor. Kemudian lektor jadi lektor kepala hingga menjadi guru besar, sehingga terjadi percepatan," tandasnya, sembari meminta para guru besar dapat memberikan bimbingan kepada para Doktor agar dapat cepat meraih profesor.

Di sisi lain, dengan dikukuhkannya Prof Dr Hj Aslamiah, itu artinya perguruan tinggi negeri terbesar di Kalimantan Selatan dengan akreditasi A itu kini memiliki total 49 guru besar aktif.

Sepanjang tahun 2019, ULM telah mencetak tujuh profesor hingga sekarang. Sebelumnya pada 21 Juni lalu menambah 5 guru besar yaitu Prof Dr Abdul Halim Barkatullah, Prof Dr Saladin Ghalib, Prof Dr Nia Kania, Prof Dr Ersis Warmansyah dan Prof Dr Fatchul Mu'in.
Baca juga: Tambah 5 guru besar, ULM miliki 49 profesor

Mundur lagi pada 31 Januari 2019, dikukuhkan Prof Dr Drg Rosihan Adhani yang menjabat Dekan Fakultas Kedokteran Gigi, yang sekaligus menandai seluruh fakultas yang ada di ULM telah lengkap semuanya memiliki guru besar.

"Saya sangat senang dan bersyukur raihan guru besar yang didapat saudari Aslamiah. Karena di ULM untuk guru besar wanita cukup jarang. Untuk itu, ini menjadi prestasi tersendiri tentunya bagi yang bersangkutan, apalagi menjadi satu-satunya guru besar di FKIP sekarang," pungkas Sutarto.
Prof Dr Hj Aslamiah MPd PhD berfoto bersama rektor dan sejumlah guru besar tamu dari dari Universitas Negeri Malang dan Universitas Negeri Yogyakarta. (antara/foto/firman)


Sementara Aslamiah berjanji raihan guru besar itu membuat dirinya kedepan akan lebih fokus untuk kegiatan mengajar dan membimbing mahasiswa mulai Program S1 sampai S3.

Dalam pidato pengukuhannya sendiri, wanita yang akrab disapa ibu Aslam ini menyampaikan materi dengan judul "Pendidikan Unggul di Era Revolusi Industri 4.0 (Perspektif Kepemimpinan Kepala Sekolah)".

Dia memaparkan pentingnya seorang kepala sekolah dalam mengambil keputusan yang cepat dan tepat serta menerapkan kolaborasi. Dimana memajukan pendidikan di sekolah harus ada kebersamaan antara guru, kepala sekolah dan semua pihak terkait.

"Semua sepakat guru jadi ujung tombak dalam pembelajaran. Bagaimana guru bisa melaksnakan pembelajaran yang baik tergantung kepada kepala sekolah. Jadi, kepemimpinan kepala sekolah yang hebat adalah kuncinya pendidikan berkualitas," tandas Ketua Program Studi S2 Manajemen Pendidikan ULM itu.

Turut hadir sejumlah profesor tamu dari Universitas Negeri Malang seperti Prof Ahmad Sonhaji dan Prof Ali Imron serta dari Universitas Negeri Yogyakarta yaitu Prof Dr Husaini Usman untuk menghadiri langsung pengukuhan ibu Aslam yang sidang senat terbukanya dipimpin Ketua Senat ULM Prof Gusti Muhammad Hatta, termasuk mantan Rektor ULM Prof Dr H Kustan Basry.
Pewarta : Firman
Editor: Muhammad Yusuf
COPYRIGHT © ANTARA 2019