Menteri PPN urun saran strategi pembinaan olahraga Indonesia

Menteri PPN urun saran strategi pembinaan olahraga Indonesia

Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN) / Kepala Bappenas Bambang Brodjonegoro (kiri) bersama dengan Pengamat Olahraga Fritz E. Simandjuntak (kanan) memberikan buku 'Refleksi satu tahun Asian Games 2018' kepada Ketua INASGOC Erick Thohir (tengah) di Gedung Bappenas, Jakarta, Kamis (10/10/2019). (ANTARA/Shofi Ayudiana)

Jakarta (ANTARA) - Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN)/Kepala Bappenas Bambang Brodjonegoro urun saran konsep dan strategi dalam hal pembinaan olahraga agar prestasi yang diraih oleh Indonesia pada Asian Games 2018 bisa terus berlanjut.

Poin pertama yang menjadi sorotan adalah bisa menentukan tolak ukur bagi beberapa cabang olahraga untuk berprestasi di ajang internasional. Bambang mengatakan tradisi emas Indonesia di Olimpiade masih tipis, bahkan hingga kini masih terlalu mengandalkan bulu tangkis dalam setiap pergelaran olahraga multievent internasional.

Untuk mencapai itu, Bambang menyarankan agar ada pemusatan latihan nasional (pelatnas) modern bagi masing-masing cabang olahraga. Lagi-lagi baru bulu tangkis yang punya pusat pelatihan khusus yang berlokasi di Cipayung.

Dia mencontohkan, Inggris adalah salah satu negara yang berprestasi dalam beberapa cabang olahraga seperti balap sepeda dan atletik. Apalagi dengan pelatnas yang tersedia di 13 daerah, mereka mampu menggodok atletnya dengan maksimal hingga bisa berprestasi dan mengemas 16 emas pada Olimpiade Beijing 2008.

Baca juga: Kesuksesan Asian Games 2018 momentum awal kejayaan olahraga Indonesia

Poin kedua adalah harus ada fokus cabang olahraga yang diprioritaskan untuk bisa mengikuti perhelatan olahraga yang berbeda. Australia misalnya, mempunyai delapan cabang unggulan dengan 150 atletnya.

"Kita merasa semua cabor penting tapi pemerintah pusat harus berani menentukan mana cabor prioritas Olimpiade, Asian Games dan SEA Games. Kita semua merasa sama hingga nanti bagi anggarannya sama padahal anggaran gak bisa dibagi rata karena targetnya berbeda."

Poin ketiga adalah menyangkut aturan atau mekanisme soal sistem pendanaan baik dari pemerintah maupun swasta.

"Paling tidak harus ada dua. Kepastian support pemerintah terhadap olahraga melalui anggaran dan bagaimana kepastian mekanisme swasta perusahaan bisa membantu olahraga, sehingga swasta dan olahraga itu bisa dapat insentif seperti swasta membantu kegiatan sosial dan riset,"kata Bambang menjelaskan.

Poin terakhir yang disampaikan oleh Bambang adalah harus ada program "Gerakan Indonesia Olahraga", di mana olahraga tidak hanya dilakukan ketika ingin menjadi atlet saja, tetapi harus dimulai sejak usia prasekolah.

"Olahraga itu harus senang dulu, bukan tanding dulu. Ketika sudah senang bisa lanjut untuk berprestasi. Tapi konsekuensinya harus ada kompetisi antarsekolah dan antardaerah."

Baca juga: KOI harapkan banyak kejuaraan level dunia digelar di Indonesia
 
Pewarta : Shofi Ayudiana
Editor: Irwan Suhirwandi
COPYRIGHT © ANTARA 2019