BPPT temukan 20 senyawa potensial untuk bahan baku obat antimalaria

BPPT temukan 20 senyawa potensial untuk bahan baku obat antimalaria

Nyamuk malaria (Lapathlabs). ANTARA/pri.

Jakarta (ANTARA) - Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) berhasil menemukan lebih dari 20 senyawa potensial yang dapat dimanfaatkan untuk pengembangan dan pembuatan bahan baku obat antimalaria.

"Lebih dari 20 senyawa diisolasi, mungkin sekitar 10 senyawa potensinya sudah cukup kuat, dan ini yang terus nanti dilanjutkan karena pengembangan obat dimulai dari 'drug discovery' untuk bahan baku obatnya, lalu uji dan mekanisme, baru masuk ke pre-clinical, clinical, registrasi dan sebagainya," kata Kepala Balai Bioteknologi Deputi Teknologi Agroindustri dan Bioteknologi BPPT Agung Eru Wibowo di Jakarta, Rabu.

Di sela-sela acara The 2nd International Symposium on Natural Resources-based Drug Development di Hotel Sari Pacific, Agung menjelaskan, penemuan senyawa potensial untuk bahan baku obat antimalaria itu dihasilkan dari kerja sama antara institusi Indonesia dan Jepang dalam kerangka Science and Technology Research Partnership for Sustainable Development (Satreps).

Agung menuturkan terdapat hingga 25 ribu mikroba yang dapat digunakan untuk sumber bahan baku obat yang melimpah dari alam.

Baca juga: Peneliti LIPI temukan bahan baku obat anti kanker

Keanekaragaman hayati Indonesia yang kaya menjadi sumber besar bagi penemuan bahan baku obat, yang memang membutuhkan kesiapan infrastruktur untuk mengeksplorasi dan mengembangkan obat dari mikroba alam.

Menurut Agung, nyamuk yang menularkan penyakit malaria bisa saja sudah resisten terhadap obat yang biasa digunakan secara signifikan sehingga perlu dicari senyawa baru untuk membuat obat malaria.

Penyakit malaria disebabkan oleh parasit Plasmodium yang disebarkan oleh gigitan nyamuk Anopheles betina.

Baca juga: Ahli kehutanan IPB kembangkan obat anti malaria

Direktur Program untuk kerja sama dalam kerangka Satreps yang juga peneliti di Balai Bioteknologi BPPT Danang Waluyo mengatakan senyawa yang paling aktif saat ini berasal dari mikroba yang diambil di Jember, yakni Aktinomiset (Actinomycetes).

"Kita ambil dari sampel mikroba dari daerah yang jarang dimasuki manusia seperti hutan dan kebun yang alami, karena harapannya mikrobanya masih asli, kalau sudah dikasih pupuk biasanya mikrobanya sama semua nanti," ujar Danang.

Perjalanan menghasilkan obat membutuhkan waktu yang lama paling tidak 10-15 tahun. Dari penemuan, isolasi dan karakterisasi senyawa, masih banyak tahap yang dilakukan termasuk uji terhadap senyawa untuk meningkatkan aktivitasnya dan menurunkan toksisitasnya.

Selain itu, menurut Danang, akan ada fase untuk menguji kemanfaatan dan keamanan obat termasuk tahap uji pada hewan dan manusia. "Mencari subjek yang sukarela untuk pengujian obat itu juga tidak mudah dan membutuhkan dana," katanya.

Pengujian sejumlah kandidat obat diperlukan untuk mendapatkan kandidat obat yang efektif tapi aman buat manusia.

Baca juga: Indonesia punya potensi besar kembangkan obat malaria

Danang mengatakan banyak pihak yang melakukan pencarian obat antimalaria tapi mereka banyak melakukan dari senyawa sintetis atau senyawa yang sudah dibuat sebelumnya, artinya jumlah senyawa yang diuji jauh lebih sedikit, padahal banyak senyawa yang bisa didapatkan jika menggunakan ekstrak dari alam.

"Kita buat satu metode agar bagaimana kita mendapatkan senyawa aktif dari alam itu terhadap malaria," ujar Danang.

Baca juga: BPPT -Jepang kerja sama pengembangan obat anti-malaria
Baca juga: Kulit batang cempedak untuk obati malaria


 
Pewarta : Martha Herlinawati S
Editor: Budhi Santoso
COPYRIGHT © ANTARA 2019